Banyak Jenis Anggrek Terancam Hilang, Peneliti UGM : Perlu Usaha Konservasi Kolaborasi

 

 

Yogyakarta. Suarapasar.com : Satu dari enam jenis anggrek di dunia diperkirakan terdapat di Indonesia. Papua menjadi pulau yang memiliki paling banyak jenis anggrek yang berhasil  ditemukan, sedikitnya ada 3000 jenis anggrek. Sedangkan di pulau Jawa kurang lebih 700 jenis anggrek yang sudah ditemukan.

Guru Besar Fakultas Biologi UGM sekaligus peneliti anggrek, Prof. Dr. Endang Semiarti, mengatakan masih banyak hutan Indonesia yang belum terjelajah yang menyimpan keanekaragaman jenis anggrek. Meskipun banyak kemungkinan ditemukannya jenis anggrek yang baru, kelangsungan hidupnya terancam oleh beberapa faktor salah satunya adalah pembangunan infrastruktur dan pembukaan perkebunan sawit.

“Banyak jenis anggrek yang terancam hilang dari hutan asalnya,” ujar Prof Endang seperti dikutip dari ugm.ac.id Senin (15/9/2025).

Dikatakan Prof Endang, diperlukan upaya dari para peneliti untuk terus melakukan upaya penemuan anggrek jenis baru, untuk menjaga anggrek dari ancaman kepunahan.

 

Upaya pelestarian anggrek sudah dilaksanakan sejak lama dilakukan oleh Fakultas Biologi UGM, seperti usaha konservasi dan perbanyakan bibit anggrek bahkan membangun kolaborasi antar komunitas di beberapa daerah maupun kerja sama dengan negara lain.

 

Penyelamatan anggrek yang dilakukan Endang dengan cara konservasi ex-situ, yakni anggrek dibawa ke luar habitatnya atau dibawa ke laboratorium  untuk dikembangkan melalui kultur jaringan agar dapat dilakukan perbanyakan secara massal.

 

Sebagai akademisi dan peneliti anggrek, kata Endang, salah satu bentuk kerja sama yang bisa dilakukannya adalah dengan memberikan ilmu yang ditekuninya dalam konservasi anggrek dengan teknologi dan disebarkan ke seluruh daerah di Indonesia. “Agar ilmunya bisa menyebar serta mengajak semua pihak untuk bersama – sama melakukan konservasi anggrek,” ucapnya.

Salah satu kolaborasi inovatif yang sedang dilakukan Prof. Endang bersama ahli anggrek lainnya adalah mengubah anggrek-anggrek yang tumbuh tinggi di Duta Orchid Garden menjadi lebih pendek. Metode ini sejalan dengan pemanfaatan anggrek untuk tanaman hias agar bisa dinikmati oleh masyarakat.

 

“Metode yang dilakukan adalah Genom Editing menggunakan CRISPR/Cas9 yaitu dengan memangkas atau menghilangkan gen-gen tidak berguna yang menyebabkan tanaman anggrek tumbuh tinggi sehingga menghasilkan anggrek yang lebih pendek namun tetap mempertahankan bunganya,” katanya.

Selain melalui penelitian ilmiah, konservasi juga dilakukan melalui pendekatan sosial seperti adanya kegiatan festival anggrek. “Sekarang ini kita bersama sama bergandeng tangan bahkan membuat festival-festival anggrek untuk mengkonservasi dan memperkenalkan ke masyarakat,” jelas Prof. Endang. (wds/drw)