Yogyakarta, suarapasar.com — Semangat perjuangan dalam Konferensi Asia Afrika 1955 dinilai masih sangat relevan untuk menjawab tantangan global saat ini, terutama dalam menghadapi ancaman neokolonialisme dan ketimpangan antarbangsa.
Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, bahkan mengusulkan penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika (KAA) jilid ke-2 dalam momentum peringatan 71 tahun KAA. Menurutnya, forum tersebut penting untuk kembali menguatkan kedaulatan bangsa di tengah dinamika geopolitik global.
“Pelaksanaan Konferensi Asia Afrika Jilid II sangat relevan,” kata Megawati dalam seminar peringatan KAA di Jakarta, Sabtu (18/04/2026).
Ia menegaskan bahwa ancaman neokolonialisme dan imperialisme masih nyata, sehingga diperlukan gagasan alternatif untuk menciptakan perdamaian dunia. Salah satu rujukan utama adalah pemikiran Soekarno, termasuk pidatonya To Build The World A New yang menekankan pentingnya kesetaraan antarbangsa.
Secara historis, Konferensi Asia Afrika 1955 yang digelar di Bandung pada 18–24 April 1955 menjadi tonggak solidaritas negara-negara Asia dan Afrika yang baru merdeka. Forum tersebut bertujuan memperkuat kerja sama ekonomi dan budaya sekaligus menentang kolonialisme dan neokolonialisme.
Konferensi ini juga melahirkan semangat Gerakan Non-Blok yang menempatkan negara-negara berkembang di luar dominasi blok Barat dan Timur, serta memperjuangkan kemandirian dan keadilan global.
Menanggapi hal tersebut, Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Yogyakarta, Eko Suwanto, menegaskan bahwa nilai-nilai KAA perlu terus diaktualisasikan dalam konteks kekinian.
“Tahun 2025 saya berkesempatan hadir mengunjungi museum Konferensi Asia Afrika di Bandung, dapat merasakan suasana batin semangat juang untuk merdeka bangsa-bangsa di Asia dan Afrika dari penindasan dan penjajahan,” ujarnya.
Eko menilai bahwa di tengah situasi global yang diwarnai konflik dan ketegangan geopolitik, Indonesia memiliki peran strategis untuk kembali menghidupkan semangat anti-kolonialisme dan solidaritas antarbangsa.
“Kita dukung sepenuhnya upaya menggelorakan semangat perjuangan untuk kemerdekaan bangsa sepenuhnya. Mari bersama bergandengan melawan kolonialisme dan penjajahan atas bangsa lain,” tegasnya.
Menurutnya, warisan pemikiran Bung Karno dan sejarah panjang Indonesia sebagai penggagas solidaritas global harus terus menjadi pijakan dalam membangun hubungan internasional yang adil, setara, dan berdaulat.(prg,wur)








