Dosen UMY Ciptakan Alat Cek Gula Darah Tanpa Jarum, Jawab Ketakutan Masyarakat

Yogyakarta, suarapasar.com – Diabetes Melitus (DM) tipe 2 terus mengalami peningkatan kasus di Indonesia, namun kesadaran masyarakat untuk memeriksa kadar gula darah secara rutin masih rendah. Salah satu kendala utama adalah ketakutan terhadap prosedur pemeriksaan menggunakan jarum. Rasa tidak nyaman hingga trauma karena tusukan jarum membuat sebagian orang enggan melakukan pengecekan berkala.

 

Menjawab tantangan tersebut, Dosen Magister Administrasi Rumah Sakit (MARS) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. dr. Mahendro Prasetyo Kusumo, S.Ked., M.M., FISPH., FISCM., AIFO-K., FRSPH, memperkenalkan inovasi alat cek gula darah tanpa jarum yang dinamakan “Manismu Cek”.

 

“Alat ini menggunakan teknologi Photoplethysmography (PPG), yakni pemanfaatan sinar infrared yang diarahkan ke pembuluh darah melalui permukaan kulit di jari telunjuk. Gelombang cahaya yang dipantulkan dari dalam tubuh kemudian dibaca oleh sistem berbasis Artificial Intelligence (AI), yang mampu mengenali pola-pola tertentu untuk mengidentifikasi kadar gula darah,” jelas dr. Mahe saat ditemui di Gedung Pascasarjana UMY, Selasa (8/7).

 

Tidak seperti alat cek gula darah konvensional, Manismu Cek tidak menimbulkan rasa sakit, ramah pengguna, dan memungkinkan pemeriksaan mandiri kapan saja. Dari segi biaya, alat ini dinilai lebih ekonomis karena menghilangkan kebutuhan alat tambahan seperti strip atau lancet, yang biasanya menghabiskan Rp20.000–Rp40.000 per pemeriksaan.

 

“Alat ini kami tujukan sebagai sarana screening awal. Jika dari hasil pengecekan terindikasi gejala DM, maka masyarakat akan kami arahkan untuk melakukan pemeriksaan lanjutan secara klinis. Minimal, mereka bisa mulai melakukan pengecekan rutin tanpa rasa takut,” tambahnya.

 

Ia juga menekankan pentingnya deteksi dini untuk mencegah komplikasi berat yang tidak hanya mengancam jiwa, tetapi juga memperbesar beban pembiayaan kesehatan dan menurunkan produktivitas kerja.

 

“Ketika produktivitas penderita DM tipe 2 menurun, hal ini berdampak langsung pada peningkatan angka kemiskinan. Inilah mengapa skrining dini menjadi sangat penting dan strategis,” ujarnya.

 

Saat ini, alat tersebut masih dalam tahap uji coba terbatas di wilayah Sidokarto, namun telah mendapat respons positif dari kalangan dokter, termasuk dokter spesialis endokrin, karena dinilai membantu proses deteksi awal yang efektif.

 

“Kami berharap inovasi ini menjadi pintu gerbang kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan sejak dini, terutama menghadapi potensi peningkatan kasus diabetes di masa depan,” tutup dr. Mahe.(prg,wur)