Buruh Anyam Tas, Buruh Tani , Tukang Ngarit di Kulon Progo Semangat Berkurban

Kulon Progo, suarapasar.com : Hari Raya Idul Adha atau Hari Raya Kurban akan segera tiba. Bagi umat muslim, penyembelihan hewan kurban sebagai wujud mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Seperti yang dilakukan sejumlah warga Kulon Progo meski jika dilihat hidup dalam keterbatasan, namun tetap semangat dan ikhlas untuk melaksanakan ibadah kurban.

Sri Wuhningsih, warga Sentolo Lor, Sentolo yang sering disapa Bu Sri Wuh misalnya. Salah satu jemaah di Masjid At-Taqwa Sentolo ini adalah sosok yang ulet, dan pekerja keras dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Sehari-hari ia bekerja sebagai buruh lepas menganyam/merenda benang menjadi tas. Pendapatan dari buruh menganyam tas yang tidak menentu, tak membuatnya putus asa. Ia selalu bekerja keras agar niatnya berkurban dapat terlaksana.

Berawal dari Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang diterimakan beberapa tahun lalu, Bu Sri Wuh menyisihkan sebagian uangnya setiap kali menerima BLT.

“Setelah terkumpul sejumlah 2 jutaan saya membeli seekor kambing betina yang masih muda. Terus saya rawat dengan baik, sehingga bisa berkembang biak. Dan memang dari awal itu, saya niatkan kalau ada anaknya yang jantan saya pakai untuk ikut berkurban,” katanya.

Tahun ini Bu Sri Wuh sudah bisa ikut berkurban yang ketiga kali dengan kambing yang dipeliharanya.

“Alhamdulillah ini yang ketiga kalinya saya kurban kambing,” katanya.

Tak jauh berbeda, Yatiman, warga Sorobayan, Tirtorahayu, Galur bekerja sebagai petani penggarap dan penggembala kambing.

“Ngapunten Mas, niki panenan semangkane kurang bagus dan harganya turun. Saya ndak jadi ikut sapi ya. Jadinya kurban dua kambing,” ujar Yatiman kepada panitia kurban.

Susanto, buruh tani dan ternak domba kecil-kecilan warga Jomboran, Janten, Temon mengikuti program tabung kurban di Masjid Baitul Murtaja Jomboran.

“Saya ikut menabung setiap bulan 75 ribu. Alhamdulillah, tahun ini saya berhasil mengumpulkan uang dan bergabung dengan yang lain ikut kurban sapi tahun ini,” katanya.

Semangat berkurban juga ada pada Tris Senu, warga Timpang, Pengasih

Kulon Progo, DIY. Selain bekerja sebagai pencari rumput untuk pakan ternak atau tukang ngarit, Jamaah Masjid Al Huda Gebangan ini menggantungkan hidupnya dari hasil kebun, seperti kelapa dan pisang. Namun ia selalu ikhlas menyisihkan rejekinya untuk berkurban.

“Tahun ini saya jual kayu yang ada di kebun ya karena saat ini hasil kebun terutama kelapa itu menurun. Terus juga ditambah celengan simpanan mbah putri kalau pas dapat BLT dari pemerintah,” tuturnya. (Wds/drw)