Tanpa APBD dan APBN, Pemkot Yogya Lanjutkan Bedah Rumah Berbasis CSR dan Gotong Royong

Kotagede, suarapasar.com – Pemerintah Kota Yogyakarta kembali melanjutkan program bedah rumah tanpa menggunakan anggaran APBD maupun APBN. Program yang berjalan sejak pertengahan 2025 ini tercatat telah membedah 82 rumah hingga akhir tahun berkat dukungan CSR perusahaan, komunitas, serta gotong royong lintas perangkat daerah dan masyarakat.

Memasuki awal 2026, bedah rumah menyasar Elisabeth Oktaviani yang tinggal di Danukusuman GK 4/1165 RT 12 RW 04 Baciro, Kemantren Gondokusuman, serta Siswo Raharjo Al Tugiman di Tegalgendu KG II/1171 RT 54 RW 11 Prenggan, Kemantren Kotagede. Masing-masing penerima memperoleh bantuan CSR sebesar Rp20 juta dari Pamella dan Bank Jogja, dengan dukungan gotong royong sejumlah perangkat daerah.

Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menegaskan bahwa program bedah rumah tidak hanya menyentuh aspek fisik bangunan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya merawat kehidupan warga yang menghadapi persoalan sosial, kesehatan, dan ekonomi.

“Di satu rumah, persoalannya sangat kompleks. Rumahnya bocor, penghuninya memiliki anggota keluarga dengan gangguan kesehatan mental dan penyakit jantung. Jika rumah tidak dibenahi, stresnya bisa berat dan berbahaya. Bedah rumah ini mengurangi beban hidup mereka,” ujar Hasto seperti dikutip dari laman Pemerintah Kota Yogyakarta.

Pada penerima lainnya di Kotagede, Hasto menyoroti potensi pemberdayaan ekonomi karena pemilik rumah memiliki usaha konveksi skala kecil. Ia berharap perbaikan rumah dapat mendorong pengembangan usaha dan membuka lapangan kerja baru bagi warga sekitar.

“Tema bedah rumah memang berbeda-beda. Yang satu fokus pada penyelamatan dan perawatan kehidupan, yang lain pada pembinaan usaha agar bisa berkembang dan membuka lapangan kerja,” jelasnya.

Hasto juga mengapresiasi kuatnya peran CSR dan gotong royong masyarakat sehingga program bedah rumah dapat berjalan masif tanpa bergantung pada APBD maupun APBN. Menurutnya, capaian 82 rumah sepanjang 2025 menjadi bukti solidaritas sosial di Kota Yogyakarta.

“Gotong royong ini tidak pilah-pilih. Tidak harus ada sertifikat rumah, yang penting rumahnya jelas tidak layak huni dan penghuninya membutuhkan. Inilah kekuatan kita,” katanya.

Pemilik Supermarket Pamella, Noor Liesnani Pamella, menyampaikan bahwa dukungan bedah rumah merupakan bentuk kepedulian terhadap kesejahteraan masyarakat. Pada 2025 lalu, pihaknya telah merealisasikan 10 unit bedah rumah dan akan kembali menyalurkan bantuan untuk lima rumah pada 2026.

Direktur Utama BPR Bank Jogja, Kosim Junaedi, menambahkan bahwa program bedah rumah sejalan dengan komitmen CSR Bank Jogja Peduli yang bersumber dari laba perusahaan. Tahun ini, Bank Jogja menyiapkan alokasi sekitar Rp100 juta yang diproyeksikan untuk lima unit rumah.

Sementara itu, penerima bantuan Elisabeth Oktaviani mengaku bersyukur atas program bedah rumah yang akan memperbaiki atap rumahnya yang selama ini bocor di banyak titik. Hal serupa disampaikan Siswo Raharjo Al Tugiman yang menyebut perbaikan atap dan talang sangat dibutuhkan demi kenyamanan dan keselamatan keluarga.(prg,wur)