Gondokusuman, suarapasar.com – Kota Yogyakarta dinilai memiliki peluang besar dalam memperkuat perekonomian, terutama melalui sektor pariwisata dan industri kreatif. Meski pariwisata lokal berkembang baik, penetrasi pasar internasional masih perlu ditingkatkan.
Hal tersebut disampaikan Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, dalam acara Teras 161 – Episode 52 bertema Bagaimana Caranya Kita Bisa Cuan dari Pertumbuhan Ekonomi 2026? “CUAN di Tahun Kuda” yang berlangsung di Bank BPR MSA pada Minggu (7/12). Acara ini menghadirkan diskusi seputar proyeksi ekonomi Indonesia 2026, strategi memperkuat sektor usaha, serta peluang investasi yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
Wawan juga menyoroti potensi industri kreatif film yang terus tumbuh, antara lain melalui pelaksanaan Jogja-Netpac Asian Film Festival. Ia menilai Yogyakarta berpeluang besar menjadi “Kota Sinema” mengingat banyaknya lokasi potensial untuk produksi film. “Ekosistem kreatif ini memiliki nilai ekonomi tinggi. Tiga hari kegiatan JAFF saja mampu mencatat transaksi hingga Rp150 miliar,” ujarnya seperti dikutip dari laman Pemerintah Kota Yogyakarta.
Menurut Wawan, pembangunan ekonomi dan pariwisata di Kota Yogyakarta harus dilakukan melalui sinergi lintas wilayah karena keterbatasan wilayah administratif. “Jogja harus inline dengan provinsi dan kabupaten lain. Kita tidak punya gunung, bandara, maupun pantai, sehingga sinergi menjadi kunci,” tegasnya.
Ia juga menambahkan bahwa destinasi favorit banyak wisatawan berada di luar kawasan kota, sehingga Pemkot mendorong inovasi dalam kota dan kolaborasi dengan swasta maupun akademisi untuk memaksimalkan potensi lokal.
Wawan mengajak seluruh pelaku usaha dan masyarakat menyambut tahun 2026 dengan semangat kolaborasi. Ia menyebutkan salah satu program yang kini dikembangkan adalah One Village One Sister University, yang mendorong kerja sama masyarakat, kampus, akademisi, dan swasta untuk menciptakan destinasi wisata baru berbasis kampung.
Salah satu kawasan yang tengah dijajaki adalah sekitar Jalan Mataram yang memiliki potensi menjadi ekosistem homestay terpadu. “Sekitar 20 rumah di kawasan tersebut berpotensi ditata dan dikelola bersama,” jelasnya.
Direktur Utama BPR MSA, Triagung Pujiantoro, turut memaparkan tantangan sektor perbankan rakyat ke depan. Ia menjelaskan bahwa perubahan nama menjadi Bank Perekonomian Rakyat membawa tanggung jawab lebih besar. “Dulu hanya menyalurkan kredit. Sekarang kami harus menjadi motor penggerak perekonomian,” ujarnya.
Triagung menambahkan bahwa BPR MSA sedang mengembangkan digital automation untuk memperkuat layanan kepada nasabah. Ia menyebutkan rebranding ini bahkan membuat kantor barunya disebut “lebih megah dari BCA”.
Terkait sektor usaha, Triagung menegaskan bahwa sektor mikro, khususnya UKM, masih menjadi kontributor utama perekonomian nasional. Ia menilai dukungan pemerintah terhadap UKM melalui penurunan PPh, kemudahan perizinan, dan digitalisasi menjadi peluang besar, terutama bagi kota seperti Yogyakarta yang ditopang sektor pariwisata dan jasa.(prg,wur)








