Wali Kota Hasto Paparkan Strategi Komunikasi Politik Digital di Hadapan Mahasiswa Amikom

UMBULHARJO — Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menjadi pembicara dalam Kuliah Lapangan bertajuk “Strategi Komunikasi Politik Kepala Daerah di Era Digital” yang diselenggarakan oleh Universitas Amikom Yogyakarta di Grha Pandawa, Balai Kota Yogyakarta, Senin (4/8). Acara ini dihadiri puluhan mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan dan dipimpin langsung oleh Kaprodi, Muhammad Zuhdan, S.I.P., M.A.

Dalam paparannya, Hasto menyoroti pentingnya adaptasi terhadap perkembangan teknologi, khususnya bagi generasi muda dan aparatur pemerintahan. Ia menekankan bahwa Pemerintah Kota Yogyakarta terus mendorong mahasiswa agar mengikuti perkembangan teknologi demi menciptakan kerja yang lebih produktif.

“Pemerintah Kota Yogyakarta berkomitmen mendorong para mahasiswa untuk menyamai perkembangan teknologi demi mendukung kerja yang lebih produktif,” ungkapnya.

Sebagai bentuk konkret dari upaya tersebut, Pemkot Yogyakarta telah mengembangkan aplikasi Jogja Smart Service (JSS) yang sejalan dengan visi pemerintahan terbuka dan melayani. Melalui aplikasi ini, publik dapat memantau aktivitas Wali Kota dan OPD, serta menyampaikan kritik maupun masukan secara langsung.

“Konsekuensi bekerja di era digital adalah keterbukaan. Pemerintah harus siap dikritik dan diawasi oleh masyarakat,” tegas Hasto.

Ia juga memaparkan pembangunan smart city yang berbasis pada enam pilar, dengan penekanan pada pemanfaatan data dan teknologi digital dalam pelayanan. Kanal komunikasi resmi, kanal keterbukaan publik seperti open house, dan layanan elektronik disebut sebagai bagian dari transformasi pemerintahan cerdas.

Lebih lanjut, Hasto menyinggung pentingnya integrasi konsep new public management dan new marketing. Menurutnya, pelayanan kini harus berfokus pada kebutuhan masyarakat, bukan sekadar produk. Ia mencontohkan inisiatif e-warung dan penguatan pangan lokal berbasis sistem ekonomi digital sebagai strategi agar uang dari produk lokal tetap berputar di daerah.

Ia menutup sesi dengan pesan penting mengenai soft skill yang menurutnya lebih menentukan kesuksesan. Ia menyebut bahwa hanya 20 persen kesuksesan ditentukan oleh hard skill, selebihnya adalah soft skill.

“Jangan sampai menua tapi belum kaya. Kita harus bisa hidup mandiri dalam waktu lama meskipun tidak bekerja. Kuncinya adalah penguasaan soft skill yang justru lebih penting daripada hard skill. Di lapangan, hanya 20 persen hard skill, sisanya soft skill,” pesannya.

Sementara itu, Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Persandian Kota Yogyakarta, Trihastono, juga menambahkan pentingnya mendesain layanan digital berdasarkan profil masyarakat. Ia menyebutkan bahwa Pemkot telah menyebar lebih dari 1.300 titik WiFi gratis di seluruh kota untuk mendukung percepatan literasi digital.

Salah satu mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan, di Universitas AMIKOM Yogyakarta, Messy yang hadir dalam acara tersebut mengungkapkan antusiasmenya. “Menurut saya kegiatan hari ini luar biasa. Saya sangat senang bisa bertemu langsung dengan Pak Wali Kota.
Beliau sangat menginspirasi. Setelah mendengarkan materi beliau, saya langsung merasa ingin jadi pemimpin juga di desa saya,” ujarnya.

Ia sangat mengambil inspiratif dari Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo tentang pentingnya memanfaatkan waktu sebaik mungkin. “Beliau bilang kita harus melipat waktu, menggandakan waktu, jangan menyia-nyiakan waktu. Itu sangat membekas bagi kami anak muda,” jelas Messy.(prg,wur)