Libatkan Dunia Usaha, Yogyakarta Perkuat Sinergi Hadapi Risiko Bencana

Mantrijeron, suarapasar.com — Kota Yogyakarta sebagai Kota Pariwisata ini juga menyimpan potensi risiko kebencanaan yang tinggi. Salah satunya bencana yang sering terjadi adalah seperti gempa bumi, letusan gunung berapi, banjir, dan kebakaran permukiman.

Untuk itu, Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terus mendorong penguatan kesiapsiagaan dan mitigasi bencana, salah satunya melalui pembentukan dan penguatan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB).

Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, saat membuka Workshop FPRB bertajuk ‘Sinergi Dunia Usaha Menuju Jogja Tangguh Bencana’ yang diselenggarakan di Hotel Alana Malioboro, Yogyakarta, Senin (21/7).

Dalam sambutannya, Wawan menekankan pentingnya peran serta dunia usaha dalam mendukung pengurangan risiko bencana di Kota Yogyakarta. Ia menyebutkan bahwa kawasan ini merupakan daerah rawan bencana, sehingga diperlukan pendekatan komprehensif dan keterlibatan aktif dari berbagai sektor.

“Jogja ini istimewa, tetapi juga merupakan kota yang rawan bencana. Oleh karena itu, pengurangan risiko bencana harus dilakukan secara menyeluruh dan terstruktur. Kami mendorong keterlibatan para pengusaha agar memiliki pemahaman dan kesiapan menghadapi potensi bencana sedini mungkin,” ujarnya seperti dikutip dari laman Pemerintah Kota Yogyakarta.

Ia juga menambahkan, pemerintah terus mengembangkan Kelurahan Tangguh Bencana (KTB) sebagai bagian dari strategi mitigasi risiko bencana. “Ini menjadi salah satu harapan kami agar FPRB dapat lebih optimal dan memberikan manfaat nyata bagi dunia usaha serta masyarakat luas,” lanjutnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kota Yogyakarta, Nur Hidayat, menyatakan bahwa penanggulangan bencana harus dilakukan secara kolaboratif, melibatkan semua pihak, termasuk pemerintah, sektor swasta, akademisi, media, dan masyarakat.

“Semangat kebencanaan harus dimiliki oleh semua pihak agar dapat menyelamatkan diri sendiri, lingkungan sekitar, dan orang lain. Kami mengajak semua stakeholder membangun kolaborasi kerja yang nyata, dengan respons aktif dalam penanggulangan bencana di Kota Yogyakarta,” jelas Nur Hidayat.

Pihaknya menjelaskan, Forum Pengurangan Risiko Bencana Kota Yogyakarta tahun ini kembali dibentuk setelah sempat vakum selama beberapa waktu. Forum ini juga melibatkan berbagai unsur, seperti pelaku usaha, akademisi, media, perbankan, rumah sakit, dan organisasi masyarakat. “Upaya ini bertujuan untuk memperkuat sinergi dalam membentuk ekosistem yang tangguh terhadap bencana,” katanya.

Dengan semangat Jogja Kota Tangguh Hasta dan prinsip Safety sebagai dasar keselamatan dan ketangguhan kota, BPBD Kota Yogyakarta juga rutin melakukan penyuluhan kebencanaan yang mendapat sambutan positif dari warga. “Hal ini menunjukkan meningkatnya kesadaran dan kesiapan masyarakat dalam menghadapi risiko bencana yang bisa datang kapan saja tanpa terduga,” ungkapnya.

Selaras dengan hal tersebut, Koordinator Bidang Advokasi Regulasi dan Kebijakan FPRB, Harris Usman Syarief dalam paparannya menekankan pentingnya memperkuat kapasitas pelaku usaha sejak pra-bencana.

“Kami akan terus mendorong terbangunnya kolaborasi nyata antara pemerintah dan dunia usaha agar tercipta sistem penanggulangan bencana yang fokus pada pencegahan. Ini akan meningkatkan kepercayaan masyarakat dan wisatawan terhadap keamanan di Kota Yogyakarta,” ujarnya.(prg,wur)