Berdiri Sejak 1982, SMP Gotong Royong Tetap Bertahan Meski Jumlah Siswa Minim

Yogyakarta, suarapasar.com : Minimnya siswa baru yang masuk pada tahun ajaran baru tahun ini, tak menyurutkan semangat para pengajar di SMP Gotong Royong Yogyakarta yang berada di wilayah Tompeyan Tegalrejo Yogyakarta untuk memberikan layanan pendidikan.

Kepala SMP Gotong Royong Ame Lita Tarigan mengatakan tahun ini, hanya ada dua siswa baru yang masuk di sekolahnya.

“Jumlah murid baru sebenarnya 5 tetapi mundur 3 karena lokasi domisili jauh semua, ada yang Imogiri, ada yang Piyungan, terus ada yang masuk pondok, jadi fix 2 saja yang masuk. Secara ekonomi pasti jelas jaminan negara semua dan salah satunya slow learner ada assesment nya,” terang Ame Lita Tarigan melalui pesan tertulis Selasa, (15/7/2025).

Ame Lita menjelaskan selain dua siswa baru kelas 7, pihaknya juga menerima satu siswa pindahan dari sekolah lain.

Sehingga saat ini total di sekolahnya ada 13 siswa dengan rincian kelas 7 ada dua siswa, kelas 8 sejumlah tiga siswa, dan kelas 9 sebanyak 8 siswa.

“Kemudian ada yang pindahan dari SMP lain Kelas 9 karena di sekolah lamanya dibully. Harapan kami, semua siswa baru kelas 7 maupun kelas 9 pindahan ini bisa nyaman, betah dan mandiri belajar bersama-sama siswa yang lain di SMP Gotong Royong,” tuturnya.

Meski jumlah siswa baru hanya dua anak, Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pun tetap dilaksanakan hingga Jumat (18/7/2025) seperti di sekolah lain pada umumnya.

“Kegiatannya ya sama. Mulai dari upacara pembukaan, membangun karakter hebat melalui gerakan tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat hingga unjuk bakat dan minat murid,” katanya.

Ame Lita Tarigan mengaku akan terus berupaya memberikan layanan terbaik kepada para siswa yang sudah mempercayakan pendidikan di SMP Gotong Royong.

“Seperti halnya di sekolah lain, ekstrakurikuler pun kita adakan untuk para siswa. Kelas 7 itu pramuka, kelas 8 iqra, kelas 9 english club,” ungkapnya.

Ame Lita mengakui mengelola sekolah swasta dengan jumlah siswa yang sangat minim bukanlah hal yang mudah. Meski begitu ia tetap akan berupaya menjaga keberlangsungan pendidikan di SMP Gotong Royong.

“Kalau jujur pasti berat, selama masih ada yang membutuhkan kita terus berupaya, mungkin kalau sudah tidak ada yang minat, kita bisa kaji ulang,” kata Ame Lita.

MPLS di SMP Gotong Royong Tompeyan Yogyakarta (ist)

Ame Lita menyebut wacana penggabungan atau merger dengan sekolah lain sempat muncul, hanya saja wacana itu ditolak para alumni baik SMP maupun SMA Gotong Royong. Para alumni pun kerap memberikan beragam dukungan untuk kegiatan sekolah dengan harapan sekolah yang sudah berdiri sejak 1982 ini tidak ditutup.

“Harapan kami tentu semakin banyak yang ingin belajar di Gotong Royong, dan Gotong Royong dipercaya masyarakat. Setidaknya yang saya tahu sejak saya bergabung disini tahun 2002, tahun 2016 itu kita kelas 7 dapat 21 siswa baru,” ujarnya.

“Kalau secara pribadi saya sangat tidak enak harus memaksa orang untuk selalu bantu. Tapi rencana Tuhan saya ikuti, mudah-mudahan Tuhan bantu saya,” pungkasnya. (wds/drw)