Kain Perca Jadi Eco-Craft Bernilai Tinggi, Wali Kota Yogya Apresiasi Kreativitas Perajin Disabilitas

Gondokusuman, suarapasar.com — Industri fashion sering menghasilkan limbah kain perca yang kerap dianggap tidak berguna. Namun, para perajin kreatif di Yogyakarta justru berhasil mengubah potongan-potongan kecil tersebut menjadi aksesori, totebag unik, dan berbagai kerajinan bernilai ekonomi. Lebih istimewa lagi, sebagian besar perajinnya merupakan penyandang disabilitas yang menunjukkan ketelitian dan ketekunan tinggi.

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, mengapresiasi potensi kreatif tersebut saat memberikan sambutan pada Talkshow PKM Nasional bersama Komunitas Kain Perca di Pusat Desain Industri Nasional (PDIN) Yogyakarta, Sabtu (21/11).
“Kreativitas ini tidak hanya memecahkan masalah limbah tekstil, tetapi juga membangun ekonomi sirkular, sebuah sistem ekonomi yang tidak boros, tidak membuang, tetapi mengolah, memberi nilai, dan menjaga Bumi,” ujar Hasto seperti dikutip dari laman Pemerintah Kota Yogyakarta.

Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo saat melihat hasil karya kain perca dari Disabilitas.
Hasto menegaskan bahwa eco-craft berbasis kain perca merupakan wujud nyata gaya hidup berkelanjutan. Produk yang tercipta tidak hanya berguna, tetapi juga membangun kesadaran lingkungan dan kesejahteraan sosial. Ia juga menilai inovasi komunitas perca sejalan dengan agenda pemerintah dalam memperkuat ekosistem ekonomi kreatif dan pariwisata berkelanjutan.

“PDIN diharapkan dapat terkoneksi dengan berbagai komunitas, menghadirkan desain yang semakin baik bagi produk-produk perca. Banyak orang kreatif di sini, dan kreativitas itu harus dikelola sebaik-baiknya,” imbuhnya.

Suasana kegiatan Talkshow PKM Nasional bersama Komunitas Kain Perca di Pusat Desain Industri Nasional (PDIN) Yogyakarta, Jalan C. Simanjuntak, Terban, Gondokusuman, Sabtu (21/11).

Hasto juga memberikan apresiasi kepada Komunitas Kain Perca Jogja, penyelenggara PKM Nasional, para pengajar, serta seluruh pihak yang membangun ekosistem kreatif berbasis keberlanjutan. Ia berharap kegiatan ini menjadi tonggak kolaborasi lebih luas untuk memajukan UMKM dan menjadikan kain perca sebagai kebanggaan.

Pendiri Rumah Kreatif Jogja, Yenny Christin, menyampaikan bahwa 15 peserta dari Yogyakarta, Sleman, dan Bantul mengikuti program tahun ini—seluruhnya penyandang disabilitas. Program tersebut telah memasuki tahun keempat.
“Peserta disabilitas cenderung lebih tekun dan teliti dalam membuat karya dari kain perca. Hasilnya rapi, dan itu membuat saya sangat bangga,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa seluruh karya telah melalui proses kurasi dan akan dipamerkan serta dipasarkan melalui Rumah Kreatif. Dari potongan kain perca, lahir berbagai produk seperti tempat hantaran, kursi, pakaian, kalung, hingga kerajinan lain yang bernilai tinggi.
“Limbah fashion sangat besar, dan jika dibiarkan bisa menjadi ancaman lingkungan. Dari limbah, kita bisa menciptakan barang bernilai tinggi,” tambahnya.(prg,wur)