Jakarta, 04 Maret 2026, suarapasar.com – Badan Eksekutif Mahasiswa Pesantren Seluruh Indonesia menyatakan keprihatinan serius atas belum terwujudnya swasembada energi nasional, terutama di tengah gejolak global akibat eskalasi perang Iran–Israel yang memicu ketidakstabilan pasar energi dunia.
Konflik yang melibatkan Iran, Israel, serta intervensi sejumlah kekuatan global disebut telah mengganggu rantai pasok energi internasional. Ketegangan di kawasan Teluk Persia, termasuk ancaman terhadap Selat Hormuz sebagai jalur strategis distribusi sekitar seperlima kebutuhan minyak dunia, berdampak pada lonjakan harga minyak mentah global. Kondisi tersebut turut memengaruhi Indonesia yang hingga kini masih bergantung pada impor energi.
Kenaikan harga minyak dunia tercermin pada penyesuaian harga BBM dalam negeri, khususnya bahan bakar non-subsidi. Situasi ini dinilai memperlihatkan lemahnya ketahanan energi nasional serta minimnya langkah antisipatif dari pemangku kebijakan di sektor energi.
Yogi Atma Setiawan selaku Wakil Sekretaris Pusat BEM Pesantren Seluruh Indonesia, menegaskan bahwa kegagalan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam menghadirkan terobosan dan kebijakan strategis untuk mengurangi ketergantungan impor telah memperburuk dampak konflik global tersebut terhadap rakyat Indonesia.
“Krisis energi akibat perang Iran–Israel membuka mata kita bahwa struktur energi nasional sangat rentan. Tidak ada strategi jangka panjang yang nyata, tidak ada percepatan energi terbarukan, dan ketergantungan pada impor justru semakin besar. Karena itu, kami mendesak Presiden segera mencopot Menteri ESDM karena gagal menjaga kedaulatan energi bangsa,” tegas Wakil Sekretaris Pusat BEM Pesantren Seluruh Indonesia.
BEM Pesantren Seluruh Indonesia menyampaikan tiga sikap utama:
- Mendesak Presiden Republik Indonesia untuk segera mencopot Menteri ESDM karena dinilai tidak mampu mengantisipasi krisis energi, baik sebelum maupun selama eskalasi konflik global.
- Menuntut percepatan diversifikasi energi nasional melalui pengembangan energi terbarukan dan reformasi tata kelola energi yang lebih mandiri.
- Mengajak seluruh mahasiswa pesantren di Indonesia untuk mengawal isu energi sebagai bagian dari tanggung jawab moral terhadap masa depan bangsa.
“Pemerintah tidak boleh pasif ketika dunia sedang mengalami guncangan energi global. Ini waktunya Indonesia berdiri tegak dengan kemandirian energi yang kuat. Jika pejabat yang menjabat tidak mampu, sudah selayaknya diganti dengan sosok yang visioner, berani, dan berpihak pada rakyat,” tambahnya.
BEM Pesantren Seluruh Indonesia juga menyatakan kesiapan menggelar aksi, forum diskusi nasional, serta gerakan pemantauan kebijakan energi sebagai bentuk komitmen dalam mengawal kedaulatan energi dan masa depan bangsa.(prg.wur)








