PDI Perjuangan Kulon Progo Komitmen Dukung Perjuangan Isu Pro Perempuan

Kulon Progo : DPC PDI Perjuangan Kabupaten Kulon Progo menggelar sarasehan dengan tema Meneladani Semangat Kartini , Perempuan Akar Rumput Berdaya, Berkarya dan Berdampak di Panti Marhaen PDI Perjuangan Kulon Progo Selasa (21/4/2026).

Ketua DPC PDI Perjuangan Kulon Progo Fajar Gegana dalam sambutannya mengatakan sarasehan dalam rangka peringatan Hari Kartini merupakan upaya PDI Perjuangan untuk terus mengingat dan meneruskan cita-cita perjuangan Kartini.

Fajar menegaskan wujud nyata keberpihakan kepada perempuan di jajaran PDI Perjuangan ditunjukkan dengan kuota 30%  pada semua unsur jajaran kepengurusan, baik itu struktural partai di tingkat kabupaten DPC, tingkat Kapanewon PAC, tingkat Kalurahan Pengurus Ranting, tingkat pedukuhan Pengurus Anak Ranting, badan dan sayap partai.

“Anak ranting misal dari 5 orang pengurus, minimal 2 orang perempuan.  Kapanewon dari 11 orang pengurus 4-5 perempuan. DPC 17 pengurus 6 diantaranya perempuan. Begitu pula untuk badan dan sayap partai kuota 30 persen wakil perempuan,” kata Fajar Gegana  Ketua DPC PDI Perjuangan Kulon Progo dalam sambutannya pada pembukaan Sarasehan dengan tema Meneladani Semangat Kartini , Perempuan Akar Rumput Berdaya, Berkarya dan Berdampak di Panti Marhaen PDI Perjuangan Kulon Progo Selasa (21/4/2026).

Tidak hanya soal kuota, PDI Perjuangan Kulon Progo berkomitmen pada keberpihakan perempuan dengan terus mengawal isu perjuangan hak-hak perempuan.

“Kami seluruh jajaran pengurus dan kader berkomitmen memperjuangkan kesetaraan gender dan isu perjuangan perempuan lainnya,” tandas Fajar.

Sementara itu, narasumber sarasehan Pito Agustin Rudiana, Jurnalis media daring alternatif perspektif perempuan konde.co memaparkan bahwa di dunia politik kuota perempuan di parlemen menjadi salah satu cara mewujudkan kesetaraan sekaligus upaya meningkatkan keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan politik. Dijelaskan Pito, berdasar data, dari masa ke masa kuota 30 persen secara jumlah mengalami peningkatan. Sebagai contoh perempuan di DPR RI, dari 11,1%-11,6% di periode 2004-2009, kini menjadi 21,9% – 22,1% di periode 2024-2029.

“Pemilu 2004-2009: 61 hingga 65 orang (11,1%-11,6%) dari 550 kursi; Pemilu 2009-2014: 101 orang (18,04%) dari 560 kursi ; Pemilu 2014-2019: 97 orang (17,32%) dari 560 kursi; Pemilu 2019-2024: 112 orang (19,48%) dari 575 kursi; Pemilu 2024-2029: 127-128 orang (21,9% 22,1%) dari 580 kursi,” urai Pito Agustin Rudiana yang juga menjabat sebagai Majelis Pertimbangan Legislasi Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta.

Ditambahkan Pito, meski keterwakilan perempuan terus meningkat, bukan berarti perjuangan telah berhasil. Secara fakta, masih banyak perempuan yang hanya menjadi sebatas pelengkap kuota 30 persen.

“Masih banyak posisi politisi perempuan yang dipasang hanya untuk melengkapi kuota 30 persen saja tanpa diimbangi kapasitas dan kualitas yang memadai. Ini catatan, untuk kita perempuan terutama perempuan di politik dituntut terus meningkatkan kualitas dan kapasitas diri. Kita tunjukkan jadi anggota dewa bukan hanya karena uang, dan popularitas semata. Tapi memang karena kita mampu menjalankan dan memperjuangkan amanah rakyat,” tandas Pito.

Peserta sarasehan, Ida Ristanti yang juga anggota DPRD Kulon Progo menyatakan secara tertulis Kulon Progo sudah memiliki Perda Pengarusutamaan Gender. Namun diakuinya pelaksanaannya belum optimal.

“Kulon Progo ada perda penyelenggaraan pengarusutamaan gender. Dulu saya Ketua Pansusnya. Tapi sepertinya ya belum sepenuhnya dilaksanakan optimal. Contoh kami mengusulkan penganggaran yang untuk pro perempuan misal honor kader posyandu, pkk, yang pelakunya di lapangan itu perempuan, ya tidak mudah lolosnya,” kisahnya.

Usai sarasehan juga dilakukan kegiatan tanam sayuran di galon-galon bekas.

Penanggung Jawab kegiatan sarasehan dan tanam pohon, Eka Septi mengatakan penanaman sekitar 50 tanaman lombok dan terong sebagai bagian kegiatan merawat pertiwi dalam rangkaian peringatan Hari Kartini.

“Kami intinya awalnya menanam. Dari sarasehan tadi ternyata menanam ini merupakan bentuk nyata wujud feminis perempuan perjuangan dibidang ekologi atau lingkungan. Tujuan kami menanam  untuk berdikari mewujudkan  kemandirian dan kedaulatan pangan minimal di lingkungan rumah kami sendiri, dan sekaligus berkontribusi menjaga lingkungan,” terang Septi yang juga Wakabid Penanggulangan Bencana, Perempuan & Anak DPC PDI Perjuangan Kulon Progo.

“Penanaman tanaman pendamping padi selain di DPC PDI Perjuangan juga dilaksanakan di rumah masing-masing kader perempuan sebagai bentuk ketahanan perempuan,” pungkas Septi. (Wds/drw)