Jamaah Haji Aisyiyah Bantul Rampungkan Armuzna, Wamen Haji Bantu Jamaah yang Kelelahan di Mina

MINA, suarapasar.com — Jamaah haji Aisyiyah Bantul yang tergabung dalam Kloter YIA 7 dilaporkan hampir menyelesaikan seluruh rangkaian Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina), yang merupakan tahapan paling krusial sekaligus inti dari pelaksanaan ibadah haji. Kloter tersebut terdiri atas lima rombongan jamaah Aisyiyah Bantul yang bergabung dengan rombongan Multazam, Rindu Ka’bah, Hajar Aswad, Bina Umat, dan Mandiri.

Rangkaian Armuzna diawali pada 8 Zulhijah dengan pelaksanaan Tarwiyah di Mina. Jamaah telah tiba di Mina sehari sebelumnya untuk mempersiapkan diri menghadapi puncak ibadah haji. Selama berada di Mina, jamaah mengisi kegiatan dengan salat berjamaah secara qashar, mendengarkan kultum, serta memperbanyak zikir dan doa.

Memasuki 9 Zulhijah dini hari, jamaah diberangkatkan menuju Arafah untuk melaksanakan wukuf yang merupakan rukun utama dalam ibadah haji. Kegiatan wukuf diawali dengan khutbah yang disampaikan Suwardiman Anwar Huda, dilanjutkan salat Zuhur dan Asar secara jamak qashar, serta doa bersama yang dipimpin pembimbing ibadah Wiharno. Setelah itu, jamaah melanjutkan doa secara mandiri, termasuk doa bersama pasangan suami istri.

Usai pelaksanaan wukuf, sekitar pukul 22.00 WAS, jamaah bergeser menuju Muzdalifah untuk melaksanakan mabit atau bermalam. Jamaah beristirahat di area terbuka tanpa tenda dan kasur, beralaskan tanah serta beratapkan langit. Sementara itu, jamaah lanjut usia, risiko tinggi, dan penyandang disabilitas mendapatkan fasilitas murur, yakni hanya melintasi Muzdalifah tanpa turun dari kendaraan.

Menjelang pukul 04.00 WAS, jamaah kembali diberangkatkan menuju Mina untuk mempersiapkan pelaksanaan lempar Jumrah Aqabah. Setelah melempar jumrah, jamaah dapat melaksanakan tahalul. Bagi jamaah laki-laki, mencukur rambut hingga gundul dianjurkan karena memiliki keutamaan sebagaimana disebutkan dalam sejumlah riwayat.

Meski demikian, perjalanan menuju lokasi lempar jumrah menjadi tantangan tersendiri bagi sebagian jamaah. Medan yang naik turun dengan jarak tempuh pulang-pergi mencapai hampir sembilan kilometer membuat sejumlah jamaah harus mengeluarkan tenaga ekstra. Oleh karena itu, jamaah lanjut usia, risiko tinggi, dan penyandang disabilitas diperbolehkan melakukan badal lempar jumrah tanpa dikenakan dam.

Dalam pelaksanaan lempar jumrah, sempat terjadi insiden ketika seorang jamaah asal Sanden berusia sekitar 65 tahun yang memilih berjalan sendiri mengalami kelelahan di tengah perjalanan. Beruntung, sejumlah rekan jamaah seperti Bu Darsih, Bu Jum, dan Mas Wahdan segera berkoordinasi dengan petugas kloter untuk memberikan bantuan.

Secara kebetulan, Wakil Menteri Haji yang melintas di lokasi turut memberikan perhatian dan memfasilitasi jamaah tersebut dengan kursi roda sehingga dapat melanjutkan perjalanan dengan aman.

Tri Suyutiyanto selaku Ketua Rombongan IV yang melaporkan langsung dari Mina menyampaikan rasa syukur karena seluruh rangkaian Armuzna sejauh ini dapat dilaksanakan dengan lancar. Ia berharap seluruh jamaah diberikan kesehatan, kemudahan dalam menyelesaikan rangkaian ibadah haji, serta memperoleh predikat haji mabrur.(prg,wur)