Minim Interaksi Lintas Identitas, Irfan Amalee Dorong Pendidikan Damai untuk Atasi Polarisasi Sosial

Yogyakarta, 4 Agustus 2025, suarapasar.com — Polarisasi sosial yang menguat di tengah masyarakat Indonesia menjadi perhatian serius dalam forum International Course on Humanity and Multiculturalism (ICOMUH) yang digelar oleh Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Dalam acara tersebut, Irfan Amalee, Co-Founder Peace Generation Indonesia, menyoroti minimnya interaksi bermakna lintas agama dan identitas sebagai akar persoalan polarisasi.

Mengutip data survei LSI tahun 2022, Irfan menyebut 85% masyarakat Indonesia tidak memiliki hubungan bermakna dengan komunitas agama lain. Hal ini dianggap berkontribusi pada lemahnya empati sosial dan tumbuhnya prasangka yang bisa memecah belah masyarakat.

“Banyak dari kita hidup berdampingan, tapi tidak saling terhubung secara empatik,” ujar Irfan seperti dikutip dari laman Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Ia juga menyoroti peran internet dalam memperkuat filter bubble, yang justru membuat masyarakat makin terjebak dalam pandangan sepihak dan mengurangi kemampuan berpikir kritis.

Sebagai solusi, Irfan menawarkan pendekatan pendidikan damai berbasis Contact Theory dari Gordon Allport. Ia menekankan pentingnya ruang aman untuk interaksi setara antara kelompok berbeda guna mengikis prasangka. Peace Generation Indonesia, katanya, telah mengembangkan metode seperti ARKA (Aktivitas, Refleksi, Konsep, Aplikasi) dan FIDS (Feel, Imagine, Do, Share), serta program-program kreatif seperti Board Game for Peace, Kick for Peace, dan Peacetival untuk mendorong pengalaman damai secara langsung.

“Pendidikan damai tidak cukup diajarkan. Ia harus dialami dan diwujudkan dalam tindakan nyata,” tegas Irfan.

Ia pun mengajak peserta ICOMUH untuk keluar dari ruang gema (echo chamber) dan membuka diri terhadap perbedaan, demi menciptakan masa depan Indonesia yang lebih damai dan inklusif.(prg,wur)