Yogyakarta, suarapasar.com : Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY melaporkan Sitrep (Situation Report) Laporan Situasi Kejadian Gempa Bumi di Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.
Jumat, 06 Februari Januari 2026, Update pukul 10:30 WIB.
Kepala Pelaksana BPBD DIY, Agustinus Ruruh Haryata menjelaskan dampak terluas di wilayah Kabupaten Bantul, ada 10 kapanewon terdampak. Gempa mengakibatkan kerusakan rumah, tempat ibadah, fasilitas pendidikan, fasilitas pemerintah dan fasilitas kesehatan.
“Kabupaten Bantul itu terdampak di 10 kapanewon (Banguntapan 1 titik, Bantul 1 titik, Imogiri 1 titik, Jetis 3 titik, Kasihan 3 tittik, Pajangan 1 titik, Pleret 1 titik, Pundong 1 titik, Sedayu 1 titik, Srandakan 1 titik). Dampak meliputi: Rumah Rusak 8 titik, Tempat Ibadah 2 Titik, Fasilitas Pemerintah, 1 Titik, Fasilitas Pendidikan 2 Titik, Fasilitas Kesehatan 1 Titik,” urainya Jumat (6/2/2026).
Adapun jumlah korban terdampak di wilayah DIY sebagai berikut sebanyak 40 orang dirujuk ke sejumlah rumah sakit.
“RSIY PDHI (3 orang), RSU PKU Muhammadiyah Bantul (9 orang), RSUD Panembahan Senopati (6 orang) , RS Rajawali Citra (6 orang), RS Nur Hidayah (3 orang) , RSA UGM (2 orang) , RSU Permata Husada (1 orang) , RSU ST Elisabeth (1 orang) , RSUD Saras Adyatma (3 orang) , RS UII (1 orang) , RSU Prambanan (4 orang) dan ada juga Puskesmas Sanden (1 orang),” terangnya lagi.
Ditambahkan Ruruh, dampak gempa juga ada di Kota Yogyakarta yakni di Kemantren Umbulharjo 1 titik, yakni dampak kerusakan atap Balai Kampung.
“Untuk Kabupaten Sleman Kabupaten Kulon Progo dan Kabupaten Gunungkidul sementara belum ada informasi dampak kerusakan maupun korban jiwa,” imbuhnya.
Adapun berdasar informasi BMKG, gempa tektonik terjadi pada Jumat 06 Februari 2026 pukul 01.06.10 WIB. Hasil analisis BMKG menunjukkan gempabumi ini memiliki parameter update dengan magnitudo M6,2. Episenter gempabumi terletak pada koordinat 8,98° LS ; 111,18° BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 89 Km arah Tenggara Kota Pacitan, Jawa Timur pada kedalaman 58 km.
Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempabumi yang terjadi merupakan jenis gempabumi dangkal akibat adanya aktivitas subduksi lempeng. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempabumi memiliki mekanisme pergerakan naik ( thrust fault ).
Gempabumi ini berdampak dan dirasakan di daerah Bantul, Sleman, Pacitan dengan skala intensitas IV MMI (Bila pada siang hari dirasakan oleh orang banyak dalam rumah), daerah Kulon Progo, Trenggalek, Wonogiri, Malang, Cirebon, Blitar, Surakarta, Karanganyar, Magelang, Jombang, Tulungagung, Ponorogo, Magetan, Nganjuk, Wonosobo, dan Banjarnegara dengan skala intensitas III MMI (Getaran dirasakan nyata dalam rumah. Terasa getaran seakan akan truk berlalu) Tuban dan Jepara dengan skala intensitas II MMI (Getaran dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda ringan yang digantung bergoyang). Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempabumi ini TIDAK BERPOTENSI TSUNAMI. (wds/drw)



