Dosen UMY Kembangkan Alat Pendeteksi Gempa Murah dan Efektif di Bantul

Bantul, suarapasar.com – Indonesia berada di jalur Cincin Api Pasifik yang dikenal rawan gempa bumi dan letusan gunung berapi. Kawasan ini merupakan pertemuan lempeng-lempeng tektonik aktif yang terus bergerak, termasuk Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia yang bertemu di Pulau Jawa. Pergerakan lempeng tersebut mencapai 6 cm per tahun ke arah utara, dan berpotensi memicu gempa besar hingga tsunami, khususnya di wilayah pesisir selatan Jawa.

Menjawab tantangan tersebut, tiga dosen dari Program Studi Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), yaitu Ir. Thoharudin, S.T., M.T., Ph.D., Ir. Sunardi, S.T., M.Eng., Ph.D., dan Fitroh Anugrah Kusuma Yudha, S.T., M.Eng., merancang alat pendeteksi gempa sederhana namun efektif. Alat ini telah dipasang di tiga titik strategis di Desa Geblagan, Tamantirto, Kabupaten Bantul, DIY.

Perangkat ini menggunakan mikrokontroler Arduino Nano dan sensor getaran SW-420 yang hanya merespons getaran beruntun lebih dari lima gelombang. Sistem ini mencegah aktivasi palsu akibat getaran ringan. Jika getaran terdeteksi, sensor akan memicu sirine bertenaga listrik 220 volt dengan suara nyaring, cukup untuk membangunkan warga saat gempa terjadi di malam hari.

“Sensor akan membaca getaran. Jika terjadi getaran beruntun, relay akan mengaktifkan sirine. Alat ini telah dipasang di titik-titik strategis seperti rumah warga, balai RT, dan rumah tokoh masyarakat,” jelas Thoharudin, Senin (14/7) di Kampus Terpadu UMY.

Selain responsif, alat ini unggul karena komponennya mudah didapat dan terjangkau. Arduino Nano, sensor SW-420, relay, dan sirine tersedia di toko elektronik maupun marketplace online. Unit kontrol dapat diletakkan di dalam ruangan untuk perlindungan, sementara sirine dipasang di luar agar suaranya menjangkau luas. Proses perakitan pun tergolong cepat, kurang dari satu minggu.

“Unit sensor dan kontrol dapat ditempatkan di dalam ruangan agar terlindung dari kerusakan, sementara sirine dipasang di luar agar bunyinya menjangkau lebih luas. Proses perakitannya pun hanya memerlukan waktu kurang dari seminggu,” tambahnya.

Respons warga Desa Geblagan pun sangat positif. Kehadiran sirine membuat mereka merasa lebih aman karena dapat segera mengetahui saat terjadi gempa yang berpotensi membahayakan.

Ke depan, tim pengembang berencana menyempurnakan alat ini dengan menambahkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Dengan demikian, alat tidak hanya merespons getaran, tetapi juga mampu membedakan antara getaran biasa dan gempa bumi secara lebih akurat, serta mengenali pola-pola seismik yang lebih kompleks.

“Penggunaan AI akan membuat alat ini menjadi lebih cerdas dan adaptif. Ini bagian dari upaya jangka panjang untuk menciptakan sistem mitigasi bencana yang lebih tangguh,” pungkas Thoharudin.

Para dosen Teknik Mesin UMY tersebut berharap bahwa inovasi ini dapat diimplementasikan secara luas di berbagai wilayah rawan gempa di Indonesia. Selain itu, mereka juga mendorong kolaborasi lintas sektor antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat untuk memperkuat ketangguhan nasional dalam menghadapi bencana alam.(prg,wur)