Yogyakarta (01/04/2026), suarapasar.com – Perayaan Mangayubagya 80 Tahun Yuswa Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X berlangsung meriah dengan pembagian ribuan nasi angkringan gratis untuk masyarakat di kawasan Malioboro. Kegiatan ini menjadi bagian dari pesta rakyat yang terbuka untuk umum.
Kepala Dinas Pariwisata DIY, Imam Pratanadi, menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan Mangayubagyo dibagi menjadi dua sesi utama, yakni siang hingga sore di Alun-Alun Utara untuk peserta kalurahan, serta sore hingga malam di Malioboro untuk masyarakat umum. Sebanyak 80 angkringan disiapkan dalam tiap sesi, dengan masing-masing menyediakan 100 porsi nasi kucing.
“Mulai pukul 16.00 sampai 22.00 WIB, dibagi dua sesi. Setiap sesi ada 80 angkringan, masing-masing menyediakan 100 nasi kucing. Pembagian dua sesi dilakukan untuk mengatur distribusi masyarakat agar tetap nyaman selama acara berlangsung,” jelas Imam pada Rabu (01/04) melalui sambungan telepon.
Dalam satu sesi, tersedia sekitar 8.000 porsi nasi angkringan yang dibagikan secara gratis. Dengan dua sesi yang digelar, total sajian mencapai lebih dari 16.000 porsi hingga malam hari.
Bentangan angkringan akan hadir mulai dari kawasan Stasiun Tugu hingga Titik Nol Kilometer. Termasuk di area Teras Malioboro, Pasar Beringharjo, hingga depan Sonobudoyo, yang sekaligus menjadi titik-titik keramaian pengunjung.
Selain sajian kuliner, pengunjung juga dapat menikmati berbagai pertunjukan seni di sejumlah titik sepanjang Malioboro. Panggung-panggung pertunjukan tersebar di beberapa lokasi strategis, menghadirkan beragam kesenian tradisional hingga modern.
“Konsep ini menjadi cara sederhana namun kuat untuk menghadirkan kebersamaan dalam ruang publik. Ini memang dari masyarakat untuk masyarakat, sebagai bentuk kebersamaan dalam memaknai momen ini,” kata Imam.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, menyampaikan bahwa pesta rakyat ini mengusung tajuk “Pesta Rakyat Golong Gilig” sebagai persembahan bagi Sri Sultan yang genap berusia 80 tahun. Ia menambahkan konsep “art on the street” dihadirkan untuk mendekatkan seni kepada masyarakat luas.
Menurut Dian, kehadiran angkringan menjadi simbol kesederhanaan sekaligus kedekatan antara pemimpin dan masyarakat. Perayaan ini juga diharapkan mampu menarik wisatawan sekaligus mendorong pertumbuhan sektor pariwisata dan ekonomi lokal.
Ia pun mengajak masyarakat untuk turut hadir dan meramaikan pesta rakyat tersebut sebagai ajang silaturahmi, terlebih masih dalam suasana bulan Syawal.(prg,wur)








