Pemkot Yogya Gandeng Korporasi Cegah Stunting Lewat Gerakan “Genting”

Umbulharjo, suarapasar.com — Pemerintah Kota Yogyakarta terus menggencarkan upaya pencegahan stunting melalui Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting), yang melibatkan berbagai korporasi sebagai mitra. Kolaborasi ini diwujudkan dalam bentuk pemberian makanan tambahan (PMT) bagi kelompok berisiko stunting.

Sejumlah mitra yang ikut dalam program ini antara lain PT Sari Husada Griya Mahardika, Radio Sonora, STIKES Bethesda, Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kota Yogyakarta, Baznas Kota Yogyakarta, Wanita Katolik Republik Indonesia, BSI Maslahat, BPJS Ketenagakerjaan, Bank Jogja, dan Bank BPD DIY.

Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menegaskan pentingnya pemantauan terhadap keluarga yang berisiko stunting, mulai dari calon pengantin (catin), ibu hamil, ibu bersalin, hingga bayi di bawah dua tahun (baduta). Menurutnya, pemantauan berat badan, tinggi atau panjang badan, serta pemberian ASI eksklusif sangat krusial untuk mencegah stunting sejak dini.

“Baduta ini harus dipantau, nanti dilihat berat badannya naik atau tidak, tinggi atau panjangnya nambah atau tidak, makanya ASI eksklusif itu sangat penting, sehingga ibu menyusui juga dipantau dan dipastikan mendapat PMT berupa protein hewani telur dan ikan lele,” ujarnya pada Senin (22/7/2025).

Selain penurunan angka stunting, Hasto menargetkan tidak ada kasus baru stunting di Kota Yogyakarta. Ia juga menyoroti pentingnya intervensi sejak pra-kehamilan, khususnya pada catin yang mengalami kondisi seperti Kurang Energi Kronis (KEK) atau anemia, yang berisiko tinggi terhadap kehamilan dan kelahiran.

“Catin ini kalau Kurang Energi Kronis (KEK), kemudian anemia, tentu sangat berisiko ketika nanti hamil dan anaknya lahir. Jadi sebelum hamil juga dipantau, diberi PMT kemudian tablet tambah darah. Ibu hamil juga dipantau khususnya yang berisiko, ada yang KEK, anemia, ada juga yang 4T yaitu terlalu muda usia kehamilan, terlalu tua usia kehamilan, terlalu dekat jarak kehamilan, dan terlalu banyak kehamilan,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Yogyakarta, Retnaningtyas, melaporkan bahwa hingga Juli 2025 terdapat 613 sasaran yang didampingi oleh orang tua asuh.

“Sasaran bayi di bawah dua tahun atau baduta ada 485, ibu hamil 116 dan ibu menyusui 12, sehingga total ada 613 sasaran yang mendapatkan pendampingan melalui Tim Pendamping Keluarga (TPK) di tiap kelurahan serta Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dari orang tua asuh yaitu 10 mitra melalui program CSR,” jelasnya.

PMT diberikan selama dua hingga enam bulan, dan perkembangan setiap sasaran dipantau secara berkala oleh TPK. Hingga Juli, tercatat pula 24 calon pengantin, 111 ibu hamil, dan 41 ibu pasca bersalin sebagai data sasaran baru.

“Kami terus mengupayakan untuk pendampingan dan PMT bisa sampai 6 bulan, dipantau secara rutin perkembangannya. Termasuk untuk data sasaran baru hingga bulan Juli ini total se-Kota Yogya ada 24 calon pengantin (catin), 111 ibu hamil dan 41 ibu pasca bersalin,” tambahnya.(prg,wur)