Kulon Progo, suarapasar.com : Ratusan siswa dari SMP Negeri 3 Wates dan SMP Muhammadiyah 2 Wates diduga keracunan makanan.
Ratusan siswa ini dilaporkan mengalami gejala muntah, diare, dan sakit perut, yang mulai dirasakan sejak Selasa malam hingga Rabu (31/7/2025) pagi.
Kejadian ini diperkirakan dialami sekitar 80 persen dari 389 siswa di SMP Negeri 3 Wates dan lebih dari 20 siswa SMP Muhammadiyah 2 Wates.
Hasil investigasi sementara menunjukkan bahwa para siswa dari kedua sekolah mengonsumsi makanan yang sama dari program penyedia layanan Makan Bergizi Gratis atau MBG.
“Anak-anak makan dari sumber yang sama, jenis makanan yang sama, dan gejalanya pun muncul pada waktu yang berdekatan. Maka kami mengarah pada dugaan kuat ini terkait makanan dari salah satu SPPG,” kata dr Sri Budi Utami, Kepala Dinas Kesehatan Kulon Progo, Kamis (31/7/2025).
Sebagian besar siswa telah mendapatkan penanganan medis di berbagai fasilitas kesehatan, termasuk RSUD Wates, Puskesmas Wates, Puskesmas Temon 1, dan RS Rizki Amalia. Beberapa siswa juga sempat dirawat di UKS sekolah.
Dinas Kesehatan telah mengambil beberapa sampel makanan yang diduga menjadi penyebab keracunan.
Dinas Kesehatan juga mengambil sampel muntahan dan sampel feses siswa untuk diuji lebih lanjut di Balai Laboratorium Kesehatan dan Kalibrasi (BLKK) Yogyakarta.
Lebih lanjut, Dinas Kesehatan mengimbau para orang tua untuk memantau kondisi anak-anak di rumah, dan segera membawa ke fasilitas kesehatan terdekat jika gejala seperti muntah, diare, dan nyeri perut masih muncul atau bertambah parah.
Dinkes mewaspadai kemungkinan kasus serupa terjadi di sekolah lain yang menjadi sasaran SPPG yang sama di hari itu karena SPPG melayani belasan sekolah.
Mengantisipasi lonjakan kasus, sejumlah fasilitas kesehatan di wilayah selatan dan barat Kulon Progo, seperti Puskesmas Galur, Puskesmas Panjatan, hingga RS Semesta juga disiagakan. Begitu pula penanganan darurat di sejumlah rumah sakit, seperti RSUD Wates, Rumah Sakit Karisma, dan Rizki Amalia.
“Kami sudah menghubungi rumah sakit di sekitar wilayah terdampak untuk siaga. Apabila ada siswa yang masuk dengan gejala lanjutan malam ini, mereka sudah siap menerima,” jelasnya.
Sementara itu, perwakilan penyedia jasa MBG di SPPG – Dapur Sehati, Arizky Fadilah, menyampaikan pihaknya saat ini masih melakukan kajian internal dan menunggu hasil investigasi dari pihak berwenang.
Menurutnya, MBG di dapurnya selama ini telah menjalankan SOP dan penggunaan APD sesuai standar yang ditetapkan oleh BPOM dan Dinas Kesehatan.
“Kami masih menunggu laporan resmi dari pihak terkait dan turut memfasilitasi pengambilan sampel. MBG berkomitmen menjalankan seluruh prosedur sesuai dengan aturan yang berlaku,” ujar Arizky, selaku PIC MBG.








