Dinkes Yogyakarta Pastikan Belum Ada Kasus Virus Nipah, Masyarakat Diminta Tetap Waspada

Umbulharjo, suarapasar.com – Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta memastikan hingga kini belum ditemukan kasus virus Nipah, baik di wilayah Kota Yogyakarta maupun secara nasional. Meski demikian, kewaspadaan masyarakat tetap diperlukan mengingat virus Nipah merupakan penyakit zoonosis yang dapat menular dari hewan ke manusia, dengan kelelawar buah sebagai reservoir utamanya.

Hal tersebut disampaikan Ketua Tim Kerja Pengelolaan Data dan Sistem Informasi Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Solikhin Dwi Ramtana, saat diwawancarai pada Rabu (4/2). Ia menyebutkan, posisi geografis Indonesia yang berdekatan dengan sejumlah negara pernah melaporkan kasus virus Nipah menjadi salah satu faktor penting untuk meningkatkan kewaspadaan.

Solikhin menjelaskan, secara geografis Indonesia berdekatan dengan sejumlah negara yang pernah melaporkan kasus virus Nipah, seperti Malaysia, Filipina, Bangladesh, dan India. Kasus pertama Nipah tercatat terjadi di Malaysia pada tahun 1998–1999.

“Hasil penelitian di Indonesia menunjukkan adanya bukti serologis dan deteksi virus pada reservoir alami kelelawar buah (Pteropus sp),” ujarnya seperti dikutip dari laman Pemerintah Kota Yogyakarta.

Ketua Tim Kerja Pengelolaan Data, dan Sistem Informasi Kesehatan, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Solikhin Dwi Ramtana, saat diwawancarai pada Rabu (4/2).

Menurut Solikhin, peningkatan kewaspadaan perlu dilakukan terutama terkait keberadaan reservoir alami serta mobilitas penduduk dari wilayah yang pernah mengalami kejadian luar biasa (KLB) virus Nipah. Untuk itu, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta memperkuat sistem surveilans kesehatan dengan memantau secara ketat gejala klinis yang berpotensi mengarah pada infeksi Nipah.

Surveilans tersebut mencakup pemantauan kasus Influenza Like Illness (ILI), ISPA akut, serta Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) di seluruh puskesmas. Hingga saat ini, ia menegaskan belum ditemukan adanya tren peningkatan kasus yang mengarah pada virus Nipah.

“Memang sempat ada kenaikan kasus ISPA saat isu ‘super flu’ akhir tahun lalu, tetapi tidak signifikan dan tidak mengarah ke Nipah,” ujarnya.

Ia menambahkan, secara klinis virus Nipah umumnya diawali dengan demam tinggi akut dan dapat berkembang menjadi gangguan saraf seperti penurunan kesadaran hingga kejang. Virus ini juga dapat menyerang otak dan memiliki tingkat fatalitas yang tinggi, berkisar antara 40 hingga 75 persen.

“Gejala yang mengarah ke penyakit Nipah, teman-teman di puskesmas sudah kami minta untuk waspada dan segera melakukan pelaporan bila menemukan gejala yang mencurigakan,” katanya.

Selain penularan dari hewan ke manusia, virus Nipah juga dapat menular antarmanusia. Oleh karena itu, masyarakat diimbau menerapkan langkah pencegahan dengan mencuci buah hingga bersih sebelum dikonsumsi serta menghindari buah yang rusak atau bekas gigitan hewan. Nira atau air sadapan kelapa juga disarankan dimasak terlebih dahulu sebelum dikonsumsi.

“Jika buah atau nira diduga terkontaminasi, sebaiknya tidak dikonsumsi. Daging ternak juga harus dimasak hingga matang dan hindari mengkonsumsi hewan yang dicurigai terinfeksi,” tambahnya.

Di samping itu, penerapan perilaku hidup bersih dan sehat tetap menjadi kunci, seperti mencuci tangan dengan sabun, menggunakan hand sanitizer, menerapkan etika batuk, serta memakai masker saat sakit atau berinteraksi dengan orang sakit. Kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, dan anak-anak juga diminta mendapat perhatian khusus.

Bagi tenaga kesehatan, kewaspadaan standar terus diterapkan melalui penggunaan alat pelindung diri (APD) sesuai protokol pencegahan dan pengendalian infeksi di fasilitas pelayanan kesehatan.

“Harapannya, dengan kewaspadaan bersama dan langkah pencegahan yang tepat, virus Nipah tidak sampai menimbulkan kasus di Indonesia, khususnya di Kota Yogyakarta,” imbuhnya.(prg,wur)