Potensi Besar Tanaman Herbal Indonesia, Purwanto Dorong Mahasiswa Agribisnis Kembangkan Inovasi Lokal

Bantul, suarapasar.com : Minat masyarakat terhadap gaya hidup sehat dan penggunaan bahan alami makin mendorong perkembangan tanaman herbal di Indonesia. Dengan kekayaan hayati yang melimpah, Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan industri tanaman obat dari sisi budidaya hingga hilirisasi produk.

Dalam Kuliah Bersama Keluarga yang digelar daring oleh Prodi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pada Jumat (28/11/2025), Purwanto, S.Pd., M.Pd., AIFO—orang tua dari mahasiswa Agribisnis UMY, Dewi Ashari—menekankan bahwa tanaman herbal tidak boleh hanya dipandang sebagai bahan tradisional, melainkan komoditas bernilai tinggi yang dapat dikelola secara profesional oleh generasi muda agribisnis. Ia memaparkan bahwa Indonesia memiliki lebih dari 30 ribu jenis tanaman, namun baru sekitar 280 jenis yang benar-benar dimanfaatkan sebagai bahan obat.

“Temulawak, kunyit, pegagan, bahkan benalu kopi yang sering dianggap pengganggu, semuanya punya manfaat besar jika dikelola dengan benar,” jelasnya seperti dikutip dari laman Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Purwanto juga menyoroti ketimpangan antara potensi besar Indonesia dan kontribusinya yang masih minim di pasar herbal global. Meski nilai pasar herbal dunia mencapai 300 juta USD, Indonesia baru menyumbang sekitar 2 persen. Ia menegaskan bahwa negara seperti China dan India sudah jauh lebih maju dalam pengembangan tanaman obat dan kini memimpin pasar internasional.

“Padahal kita punya sumber daya yang luar biasa, hanya saja belum dikelola maksimal. Kondisi ini seharusnya menjadi motivasi bagi mahasiswa untuk menciptakan inovasi berbasis tanaman lokal,” tegas Purwanto.

Sebagai pelaku usaha herbal di Kampar, Riau, ia mengungkap bahwa tantangan terbesar bukan pada pasar, melainkan ketersediaan bahan baku. Permintaan tinggi tidak selalu dapat dipenuhi karena pasokan tanaman yang dibudidayakan sendiri belum mencukupi, sehingga harus membeli dari luar dengan harga tinggi. Meski demikian, usaha herbalnya tetap membuahkan omzet lebih dari Rp50 juta per bulan, menunjukkan prospek cerah sektor ini bagi pengusaha baru.

Purwanto percaya peluang pengembangan herbal akan semakin luas berkat dukungan pemerintah dan pemasaran digital. Ia menyebut biaya produksi yang relatif kecil dan pasar yang terus berkembang sebagai alasan kuat bagi mahasiswa untuk terjun ke industri ini. Menurutnya, inovasi berbasis tanaman lokal hingga pengembangan wisata herbal dapat menjadi peluang usaha yang menjanjikan di masa depan.(prg,wur/wds)