Yogyakarta (22/12/2025), suarapasar.com – Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) resmi ditetapkan sebagai lokasi penyelenggaraan International Military Psychology Conference (IMPC) 2026. Kegiatan berskala internasional ini digagas Fakultas Psikologi Universitas Jenderal Ahmad Yani (UNJANI) bekerja sama dengan Pusat Psikologi TNI dan akan menghadirkan pakar psikologi militer dari berbagai negara.
Dekan Fakultas Psikologi UNJANI, Brigjen TNI (Purn) Dr. Eri Radityawara Hidayat, MBA., MHRMC, menyampaikan bahwa IMPC 2026 dijadwalkan berlangsung pada 10–14 November 2026. Konferensi ini akan memfokuskan pembahasan pada isu operasi militer selain perang yang dinilai semakin relevan dengan dinamika global saat ini.
“Kedatangan kami, selain untuk silahturahmi, kami juga datang untuk meminta dukungan dari Pemda DIY untuk menyukseskan penyelenggaraan IMPC 2026 ini. Kami memilih Jogja sebagai lokasi penyelenggaraan karena kami ingin mengangkat nilai-nilai budaya dari masyarakat Jawa dan dari Keraton Yogyakarta untuk membahas tentang isu-isu operasi militer selain perang,” paparnya.
Menurut Eri, pola konflik saat ini telah banyak bergeser dari perang konvensional menjadi perang psikologi atau low intensity conflict. Kondisi tersebut menuntut pendekatan baru yang tidak hanya mengandalkan kekuatan alutsista, tetapi juga pemahaman budaya dan aspek psikologis lintas negara.
“Saat ini, jika hanya mengandalkan pesawat canggih atau tank ternyata tidak bisa menang perang. Jadi harus melalui pendekatan budaya dan sebagainya. Pada konferensi inilah berbagai pakar psikologi akan membahas soal perang psikologi lintas budaya untuk operasi militer selain perang,” paparnya.
Ia menambahkan, keterlibatan Fakultas Psikologi UNJANI dalam IMPC 2026 juga didukung kekhasan keilmuan yang dimiliki, yakni studi psikologi militer. Sejumlah negara dari berbagai benua dipastikan kembali berpartisipasi sebagaimana penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya.
Menambahkan, Kepala Dinas Psikologi TNI Angkatan Laut, Laksamana Pertama TNI Wisnu Agung, menegaskan pentingnya pendekatan budaya dalam setiap operasi militer selain perang, termasuk dalam penanganan bencana.
“Kami di Angkatan Laut juga sudah ada kerja sama dengan abdi dalem. Kami belajar dari sisi budayanya itu sendiri, dan kami padukan dengan kesehatan mental, terutama untuk prajurit TNI darat, laut maupun udara. Dan dengan memahami berbagai budaya, tentu operasi yang dijalankan bisa sukses karena tidak menimbulkan konflik-konflik yang tidak kita inginkan,” jelasnya.(prg,wur)








