Alumni UMY Gagas Model Pemberdayaan Berkelanjutan Pascakampus: “KKN Bukan Sekadar Program, tapi Proses Hidup”

Yogyakarta, suarapasar.com – Pengabdian kepada masyarakat sejatinya bukan sekadar agenda rutin dalam kalender akademik. Ia adalah proses yang berakar dari nilai-nilai empati, kolaborasi, dan komitmen jangka panjang terhadap perubahan sosial. Dalam konteks perguruan tinggi, kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) kerap dianggap sebagai program sementara. Namun, bagi Bhakti Gusti Walinegoro, S.IP., MPP, alumni Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), pengabdian justru dimulai ketika program formal selesai.

Bhakti membuktikan bahwa pendekatan yang tepat dalam KKN dapat melahirkan model pemberdayaan masyarakat yang hidup dan berkelanjutan. Di Desa Karangrejek, Wonosari, Gunungkidul, ia merintis sistem pembangunan sosial yang melibatkan masyarakat secara aktif dan mandiri.

“Kami membuat rumus sederhana, 4 tambah 4 sama dengan keberlanjutan. Rumus ini merujuk pada empat aktor dan empat proses penting dalam pembangunan masyarakat,” jelas Bhakti saat memotivasi peserta KKN UMY Periode Genap T.A. 2024/2025, Selasa (22/7) di Sportorium UMY.

Ia menyoroti pentingnya peran Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) bukan hanya sebagai penanda tangan laporan, melainkan mitra strategis dalam ide, akses mitra, dan distribusi dana. Relasi intens antara mahasiswa dan pembimbing, menurutnya, merupakan salah satu kunci keberhasilan pengabdian.

Lebih lanjut, Bhakti menekankan peran “Local Hero” atau tokoh lokal non-pemerintah sebagai pelanjut program setelah mahasiswa kembali ke kampus. Mahasiswa didorong untuk menggandeng pelaku UMKM, karang taruna, hingga komunitas ibu-ibu PKK.

“Mahasiswa KKN harus jadi fasilitator. Bawa ide-ide segar, tapi jangan lupakan kearifan lokal. Setiap desa punya karakter unik, jadi pendekatannya pun harus kontekstual,” ujarnya seperti dikutip dari laman Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Bhakti juga menekankan pentingnya membentuk kelompok masyarakat sesuai segmentasi sosial demi kelangsungan dan regenerasi program. Selain itu, ia menyebut tiga pilar kesuksesan pemberdayaan masyarakat: pengetahuan, jaringan, dan sumber daya.

“Pengetahuan itu kemampuan membaca kebutuhan desa. Jaringan adalah bagaimana kita terhubung dengan pemangku kebijakan dan lembaga luar. Sedangkan sumber daya tidak selalu uang, bisa juga waktu, tenaga, dan kreativitas. Semua itu bila digerakkan dengan tepat, keberlanjutan bukan lagi mimpi,” tutupnya.(prg,wur)