Jakarta, suarapasar.com — Dr. KH. Marsudi Syuhud dikenal sebagai ulama yang menggabungkan nilai-nilai keislaman, pengalaman organisasi, ekonomi syariah, hubungan antaragama, serta komitmen terhadap kebangsaan. Menurutnya, kemajuan tidak berarti meninggalkan nilai dan jati diri, tetapi menghadirkan nilai agama, kebangsaan, dan kemanusiaan dalam menjawab berbagai tantangan zaman.
Saat ini, Marsudi Syuhud dipercaya sebagai Wakil Ketua Umum Pengurus Pusat Majelis Ulama Indonesia (MUI) periode 2025–2030. Sebelumnya, ia pernah menjabat sebagai Sekretaris Jenderal PBNU dan Wakil Ketua PBNU yang membidangi hubungan internasional, hubungan antaragama, ekonomi, dan investasi.
Di bidang ekonomi syariah, Marsudi Syuhud aktif sebagai Wakil Ketua Dewan Syariah Nasional MUI, Dewan Pengawas IAEI, Pengawas DEKOPIN, Ketua INKOPONTREN, dan Ketua Umum ASPEP. Ia juga pernah dipercaya sebagai Komisaris Bank Muamalat Indonesia dan Dewan Pengawas BPKH.
Kader NU dan Akademisi serta Praktisi hukum, Dr. Amrullah, SH.I., MH.I. mengungkapkan pengalaman KH Marsudi Syuhud tidak hanya berada di tingkat nasional. Ia juga aktif dalam berbagai forum perdamaian dan dialog antaragama internasional, termasuk menjadi pembicara di India, Filipina, Italia, Amerika Serikat, Vatikan, dan Singapura, serta sejumlah forum internasional lainnya.
“Kiprah tersebut memperkuat perannya dalam membangun dialog lintas agama, memperkuat toleransi, dan mendorong perdamaian di tengah dinamika global,” ungkapnya, pada Kamis (20/08/26).
Atas berbagai pengabdiannya kata Amrullah, Marsudi Syuhud telah memperoleh sejumlah penghargaan, di antaranya Global Peace Interfaith Leader Award 2014, Moslem Choice Award 2020, dan Main Cooperation Driving Figure Award 2022.
“Dengan pengalaman di bidang keulamaan, organisasi, ekonomi syariah, hubungan antaragama, dan diplomasi perdamaian internasional, KH. Marsudi Syuhud dinilai memiliki kapasitas untuk terus memberikan kontribusi bagi umat dan bangsa,” katanya.
Ia menegaskan bahwa dalam menghadapi tantangan menuju Indonesia Emas 2045, diperlukan kepemimpinan yang mampu menjaga keseimbangan antara nilai agama, kebangsaan, kemajuan ekonomi, dan keterbukaan terhadap dunia internasional.
“Semangat yang dibawa beliau adalah membangun kemajuan tanpa kehilangan jati diri, memperkuat persatuan tanpa menghilangkan perbedaan, serta menjadikan nilai-nilai agama sebagai kekuatan untuk membangun Indonesia yang maju, damai, dan bermartabat. Dari NU untuk umat. Bersama Indonesia maju menuju Indonesia Emas 2045,” pungkasnya.(prg,wur)