Kulon Progo, suarapasar.com – Festival dan Lomba Layang-Layang Internasional yang menjadi rangkaian dari Jogja International Kite Festival (JIKF) berhasil digelar di kawasan persawahan Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) Kalurahan Banaran, Kapanewon Galur, Kulon Progo pada 4–5 Juli 2026. Selain menjadi ajang unjuk kreativitas para pelayang, kegiatan bertaraf internasional tersebut mampu menarik lebih dari 15.000 pengunjung serta memberikan dampak positif terhadap perekonomian pelaku UMKM lokal.
Kegiatan tersebut secara resmi dibuka oleh Bupati Kulon Progo, Agung Setyawan, yang hadir bersama Wakil Bupati Kulon Progo, Ambar Purwoko, serta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Kulon Progo.
Dalam sambutannya, Bupati Agung Setyawan memberikan apresiasi kepada seluruh panitia penyelenggara. Menurutnya, meskipun perpindahan lokasi dilakukan dalam waktu yang singkat, panitia mampu menyiapkan kawasan JJLS Banaran sebagai lokasi alternatif yang layak dan representatif untuk penyelenggaraan festival.
“Event Festival dan Lomba Layang-Layang Internasional ini secara nyata telah memberikan hiburan murah meriah bagi masyarakat Kulon Progo di tengah kesibukan mereka. Berdasarkan hitungan cepat panitia, ada lebih dari 15 ribu pengunjung berkumpul dan seluruh dagangan UMKM laris manis. Ini membuktikan event ini membawa kemanfaatan yang besar,” ujar Agung Setyawan Minggu (5/7/2026).
Pemerintah Kabupaten Kulon Progo juga menyatakan komitmennya untuk terus mendukung penyelenggaraan festival agar dapat menjadi agenda tahunan yang lebih besar. Terkait adanya lahan pertanian yang terdampak akibat tingginya jumlah pengunjung, Bupati menyampaikan permohonan maaf kepada para petani serta meminta panitia berkoordinasi untuk mencari solusi terbaik.
Bupati turut mengapresiasi seluruh unsur pengamanan yang telah menjaga kelancaran kegiatan, mulai dari Jaga Warga Kalurahan Banaran, Babinsa, Bhabinkamtibmas, hingga para relawan dari RAPI, Kokam, Senkom, Banser, dan Orari.
Ketua Panitia, Anang Sarjiyanto, menjelaskan bahwa festival di Kulon Progo merupakan pembuka sebelum pelaksanaan puncak Jogja International Kite Festival yang akan digelar di Pantai Parangkusumo, Bantul.
Anang menjelaskan bahwa lokasi penyelenggaraan semula direncanakan di Lapangan Tayuban. Namun, karena adanya pertimbangan keselamatan terkait jaringan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) yang merupakan objek vital nasional, panitia bersama PT PLN (Persero) memutuskan memindahkan lokasi ke kawasan JJLS Banaran.
“Karena keputusan pindah ke lokasi JJLS Banaran ini sangat last minute, kami memohon maaf sebesar-besarnya kepada para petani jika ada beberapa tanaman yang sedikit rusak. Kami siap berkomunikasi lebih lanjut. Untuk tahun depan, kami berharap kegiatan ini bisa menjadi agenda rutin Pemkab dan kami akan mengondisikan lahan agar tidak ditanami terlebih dahulu sebelum festival dimulai,” kata Anang.
Menurut Anang, penyelenggaraan festival di Kulon Progo juga bertujuan mempertemukan delegasi pelayang dari 17 negara dengan komunitas pelayang lokal. Komunitas layang-layang Kulon Progo dinilai memiliki potensi besar, khususnya dalam pembuatan layang-layang jenis train naga yang diminati oleh peserta mancanegara.
Festival tahun ini diikuti oleh 39 klub layang-layang dengan rincian sebagai berikut:
• Kategori Tradisional: 10 klub
• Kategori Kreasi: 5 klub
• Kategori Tren Anak: 7 klub
• Kategori Tren Dewasa: 17 klub (den gan total 42 layangan)
Sebagai bentuk komitmen terhadap keselamatan, panitia bekerja sama dengan PT PLN (Persero) dan AirNav Indonesia untuk memberikan edukasi mengenai safety cutting atau keamanan bermain layang-layang di sekitar jaringan listrik dan jalur penerbangan, khususnya kepada peserta anak-anak. Panitia berharap pemerintah daerah dapat terus memberikan dukungan agar potensi pelayang lokal semakin dikenal di tingkat nasional maupun internasional.
Salah satu peserta internasional asal Beirut, Lebanon, Sami, mengaku terkesan dengan pengalaman pertamanya mengikuti festival layang-layang di Yogyakarta. Ia yang telah menekuni hobi tersebut sejak tahun 1990 menilai masyarakat Indonesia memiliki keramahan yang menjadi daya tarik tersendiri.
“Indonesia selalu menjadi salah satu destinasi favorit saya karena keramahan masyarakatnya yang selalu tersenyum dan berpikir positif. Berbeda dengan festival di Eropa di mana orang-orangnya cenderung kurang peduli, di Indonesia atmosfernya sangat dekat dan hangat,” ungkap Sami.
Sami menambahkan bahwa selain cuaca, keanekaragaman buah eksotis, dan situs bersejarah, ia juga menyoroti pentingnya menjaga tradisi ini bagi generasi muda. “Di era digital saat anak-anak lebih tertarik pada gawai dan game, menjadi tugas bersama bagi kita untuk mendukung aktivitas seperti ini agar tradisi menerbangkan layang-layang tetap hidup dan berkembang,” lanjutannya.(prg,wur)
Berdasarkan dokumen Berita Acara Pemenang, berikut adalah daftar pemenang Festival dan Lomba Layang-Layang Internasional Kulon Progo 2026
1. Kategori Tradisional
• Juara 1: Mandala Berwarna (Club: Ronggolawe)
• Juara 2: Owel (Club: Ronggolawe)
• Juara 3: Wijaya Kusuma (Club: PWM Kite)
2. Kategori Kreasi
• Juara 1: Kencana Langit (Club: PWM Kite)
• Juara 2: Anoman (Club: Mustika Team)
• Juara 3: Drum (Club: PWM Kite)
3. Kategori Train Dewasa
• Juara 1: Animasakaa (Club: Independent)
• Juara 2: Naga Dewangkara (Club: Santiko Buwono)
• Juara 3: Naga Krisna (Club: Royal Team)
4. Kategori Train Anak
• Juara 1: Nyai Ageng Serang (Club: Bolo Srewu Kite)
• Juara 2: Kaiyang (Club: Bolo Dewo)
• Juara 3: Grasesa (Club: Nogo Ruwet Team)
5. Juara Favorit
• Pelatuk Kite







