Yogyakarta (22/12/2025), suarapasar.com – Pemerintah Daerah DIY menyalurkan bantuan biaya hidup (living cost) selama enam bulan kepada 1.296 mahasiswa yang terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Bantuan tersebut diserahkan secara simbolis oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X kepada 30 perwakilan mahasiswa di Bangsal Kepatihan, Senin (22/12).
Program bantuan ini diberikan agar mahasiswa dari daerah terdampak bencana tetap dapat melanjutkan pendidikan tanpa terkendala masalah finansial. Dalam skema kolaboratif tersebut, Pemda DIY menanggung biaya hidup mahasiswa selama enam bulan, yang diperkuat dengan dukungan BAZNAS DIY serta dua yayasan mitra, yakni YPM dan YPACC.
Sri Sultan menjelaskan bahwa pemberian bantuan ini merupakan kelanjutan tradisi kemanusiaan yang dirintis oleh Sang Ayah, Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Dahulu, saat peristiwa PRRI di Sumatera Barat meletus, banyak mahasiswa Sumatera di Yogyakarta yang terputus akses kiriman dananya, sehingga seluruh biaya hidup mereka kemudian ditanggung sepenuhnya oleh Pemerintah Daerah DIY.
Tradisi serupa juga pernah dilakukan Pemda DIY saat menangani mahasiswa asal Papua dan wilayah lainnya yang tertimpa musibah. “Kami berpartisipasi agar tujuan mereka datang ke Jogja untuk belajar itu tidak putus di tengah jalan. Nyatanya, dari pengalaman yang ada, semua bisa menyelesaikan pendidikannya karena beban itu kita tanggung bersama,” lanjut Sri Sultan.
Berdasarkan hasil validasi Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dikpora) DIY hingga 19 Desember 2025, tercatat sebanyak 1.296 mahasiswa dari 52 perguruan tinggi negeri dan swasta berhak menerima bantuan dengan nominal Rp300.000 per bulan. Sri Sultan juga menyampaikan apresiasi kepada perguruan tinggi dan seluruh elemen masyarakat yang turut bersinergi mendukung keberlanjutan pendidikan mahasiswa terdampak.
Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwi Panti Indrayanti, menjelaskan bahwa selain bantuan tunai, Pemda DIY juga memberikan relaksasi biaya kuliah serta bantuan logistik bagi mahasiswa. Ia mengapresiasi peran aktif 52 perguruan tinggi yang bergerak cepat dalam proses validasi data agar bantuan dapat disalurkan tepat sasaran.
“Kami sempat melakukan cut-off data pada Jumat lalu. Awalnya kami mendata berdasarkan NIM, namun karena penyaluran melalui rekening BPD DIY membutuhkan NIK, kami bekerja lembur dua hari untuk melengkapinya agar bantuan bisa segera cair,” ujar Ni Made.
Selain itu, bantuan logistik berupa beras juga telah disalurkan ke asrama-asrama IKPM asal Sumatera. Sementara itu, kampus-kampus di DIY turut memberikan keringanan Uang Kuliah Tunggal (UKT), mulai dari pembebasan penuh bagi kategori terdampak berat hingga potongan 25–50 persen bagi kategori sedang dan ringan.
Kondisi sulit dirasakan oleh Azmi, mahasiswa Teknik Pertambangan UPN “Veteran” Yogyakarta asal Aceh Tamiang. Ia menyebut keluarganya kehilangan tempat tinggal akibat banjir besar.
“Keluarga saya pedagang di Bukit Temurung. Kemarin banjir sampai seatap rumah. Sekarang semuanya masih mengungsi,” ungkap Azmi.
Azmi mengaku bantuan living cost dari Pemda DIY sangat membantu keberlanjutan studinya di Yogyakarta di tengah terhentinya kiriman biaya dari orang tua.(prg,wur)








