Hari Jamu Nasional 2026 DIY, Jamu Didorong Menjadi Gaya Hidup Sehat dan Penggerak Ekonomi

Kulon Progo, suarapasar.com – Puncak peringatan Hari Jamu Nasional 2026 Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) digelar di Taman Jamu Naturindo, Senggangsari, Kulon Progo, Sabtu (7/6/2026). Momentum tersebut dimanfaatkan untuk memperkuat pelestarian jamu sebagai warisan budaya bangsa sekaligus mendorong pemanfaatannya sebagai bagian dari gaya hidup sehat masyarakat.

Mengusung tema “Jamu Yogyakarta Istimewa, Jamu Indonesia Mendunia”, peringatan tahun ini diharapkan mampu memperkokoh posisi Yogyakarta sebagai pusat pelestarian sekaligus motor penggerak pengembangan jamu hingga tingkat internasional.

Wakil Ketua TP PKK DIY, GKBRAA Paku Alam, dalam sambutannya menegaskan bahwa jamu bukan sekadar minuman herbal tradisional, melainkan warisan budaya yang mencerminkan kearifan lokal dan kecerdasan leluhur dalam menjaga keseimbangan antara alam dan kesehatan manusia.

“Jamu bukan sekadar deretan botol berisi cairan herbal tradisional. Jamu adalah warisan budaya adiluhung, sebuah manifestasi kecerdasan lokal leluhur kita yang meramu keselarasan antara alam dan kesehatan manusia,” ujar GKBRAA Paku Alam.

Menurutnya, Yogyakarta memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga eksistensi jamu agar tidak hanya dicintai di dalam negeri, tetapi juga mampu mendapat pengakuan di tingkat global.

“Yogyakarta, dengan segala keistimewaannya, harus menjadi benteng sekaligus motor penggerak agar jamu tidak hanya dicintai di rumah sendiri, tetapi juga diakui dan dihargai di panggung internasional,” lanjutnya.

Keberadaan Taman Jamu Naturindo dinilai menjadi bukti nyata komitmen berbagai pihak dalam menjaga keberlanjutan jamu dari proses budidaya tanaman obat hingga pengembangan produk yang siap dimanfaatkan masyarakat.

Selain seremoni utama, peringatan Hari Jamu Nasional 2026 juga dimeriahkan dengan berbagai kegiatan edukatif dan budaya, seperti workshop, penyuluhan, lomba melukis, lomba mewarnai, lomba video, hingga lomba membatik. Kegiatan tersebut menjadi sarana untuk menanamkan kecintaan terhadap budaya bangsa kepada generasi muda sejak dini.

“Saya sangat mengapresiasi rangkaian kegiatan hari ini. Batik dan jamu sama-sama merupakan identitas budaya bangsa yang telah diakui dunia. Memadukannya dalam satu festival adalah langkah cerdas untuk menanamkan rasa cinta budaya sejak dini kepada generasi muda,” katanya.

Sementara itu, Ketua Dewan Jamu Indonesia (DJI) DIY, Prof. Dr. dr. Nyoman Kertia, menekankan pentingnya pemanfaatan jamu sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan masyarakat. Menurutnya, jamu dapat menjadi salah satu alternatif untuk mendukung pencegahan berbagai penyakit degeneratif yang kini semakin banyak dijumpai.

“Kami berharap masyarakat semakin mengutamakan jamu sehingga tidak terlalu bergantung pada obat-obatan kimia. Dengan masyarakat yang sehat, produktivitas meningkat, ekonomi tumbuh, dan lingkungan juga menjadi lebih baik,” ujarnya.

Prof. Nyoman menjelaskan bahwa tantangan terbesar dalam pengembangan jamu saat ini adalah membangun kepercayaan masyarakat, termasuk kalangan akademisi dan tenaga kesehatan, terhadap manfaat jamu. Karena itu, pendekatan ilmiah tetap harus menjadi dasar dalam pengembangan produk jamu agar aman dan berkhasiat.

“Kita tidak memaksakan, tetapi menunjukkan dan meyakinkan bahwa jamu aman dan berkhasiat. Aturan-aturan ilmiah tetap harus dipatuhi demi keamanan masyarakat,” tegasnya.

Ia juga menyoroti besarnya potensi tanaman obat di DIY yang masih dapat dikembangkan lebih luas. Menurutnya, masih banyak lahan yang belum dimanfaatkan secara optimal untuk budidaya tanaman herbal yang dapat menjadi sumber bahan baku jamu berkualitas.

Selain memberikan manfaat kesehatan, pengembangan jamu juga dinilai memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Produk jamu yang berkualitas berpotensi menjadi komoditas unggulan yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus mendukung pelestarian lingkungan melalui budidaya tanaman obat.

“Produk jamu yang berkualitas berpotensi menjadi komoditas unggulan yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan melalui budidaya tanaman obat,” tandasnya.

Melalui peringatan Hari Jamu Nasional 2026, berbagai pihak berharap jamu semakin diterima sebagai bagian dari gaya hidup sehat masyarakat modern sekaligus menjadi produk budaya Indonesia yang mampu bersaing di pasar global.(prg,wur)