Wali Kota Yogya Kukuhkan Komunitas Peduli Sungai Bendung Surokarsan, Dorong Warga Jadi Garda Terdepan Jaga Kali Code

Gondomanan, suarapasar.com – Sebanyak 30 anggota Komunitas Peduli Sungai (KPS) Bendung Surokarsan Kali Code resmi dikukuhkan oleh Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo di Pendopo Taman Perwira Prawirodirjan, Rabu (21/1). Pengukuhan ini menandai penguatan peran masyarakat dalam menjaga kelestarian sungai, sekaligus mendukung upaya mitigasi bencana dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.

Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menyampaikan bahwa keberadaan komunitas peduli sungai diharapkan mampu menumbuhkan rasa memiliki warga terhadap sungai. Ia menilai pemerintah tidak akan optimal menjaga sungai tanpa keterlibatan langsung masyarakat yang sehari-hari hidup dan beraktivitas di bantaran sungai.

“Komunitas ini akan lebih efektif dan efisien karena anggotanya adalah warga yang setiap hari berada di sekitar sungai. Ketika rasa peduli dan rasa memiliki itu tumbuh dari masyarakat sendiri, maka kepedulian terhadap sungai akan jauh lebih kuat,” ujar Hasto seperti dikutip dari laman Pemerintah Kota Yogyakarta.

Ia menambahkan, keterlibatan warga diyakini dapat mendorong perubahan perilaku, mulai dari tidak membuang sampah ke sungai hingga saling mengingatkan antarwarga. Dengan demikian, sungai tidak hanya dijaga pemerintah, tetapi dirawat bersama oleh masyarakat.

Hasto menekankan, keberadaan komunitas ini diharapkan mampu menjembatani program pemerintah dengan kebutuhan dan kondisi riil di lapangan. Sinergi antara Komunitas Peduli Sungai, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak, serta perangkat daerah menjadi kunci agar pengelolaan sungai dapat berjalan efektif dan berkelanjutan.

Ia menilai kawasan Bendung Surokarsan memiliki potensi strategis karena telah didukung infrastruktur seperti jogging track dan pendopo. Menurutnya, komunitas peduli sungai dapat menghidupkan kawasan tersebut agar tetap terawat, bersih, dan memberi manfaat bagi warga, bahkan dikembangkan sebagai destinasi wisata berbasis komunitas.

“Ini bisa menjadi ruang tampil seni budaya, terutama pada malam libur. Kawasan sungai bisa menjadi balai atau panggung bagi kampung-kampung budaya di sekitarnya. Dari situ magnet wisata bisa tumbuh dan berkembang secara bertahap,” jelasnya.

Lebih lanjut, Hasto menekankan pentingnya kolaborasi komunitas dengan program pemerintah, khususnya Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Ia mendorong agar komunitas tidak hanya membersihkan sungai, tetapi juga mengolah sampah menjadi pupuk sehingga tercipta kolaborasi yang produktif dan berkelanjutan.

Selain itu pihaknya juga menekankan pentingnya peran komunitas dalam menjaga tutupan lahan dan mendorong pembuatan resapan air di lingkungan sekitar sungai. Langkah tersebut dinilai penting untuk menahan air hujan agar tidak langsung mengalir ke sungai dan memicu banjir di wilayah hilir.

“Kalau air hujan semuanya langsung lari ke sungai, yang kasihan itu wilayah hilir seperti Bantul. Maka rumah-rumah di sekitar sungai juga perlu membuat resapan air. Merawat lingkungan ini bagian dari rahmatan lil alamin,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala BBWS Serayu Opak Maryadi Utama mengapresiasi dukungan Pemerintah Kota Yogyakarta terhadap pembentukan Komunitas Peduli Sungai Bendung Surokarsan. Ia berharap komunitas ini dapat menjadi ujung tombak edukasi masyarakat dan bersinergi dengan berbagai pihak dalam menjaga kebersihan sungai serta tutupan lahan guna mencegah bencana.

Maryadi menjelaskan, peran komunitas ke depan tidak hanya terbatas pada kegiatan bersih-bersih sungai, tetapi juga edukasi dan pengembangan potensi ekonomi kawasan agar komunitas dapat berkelanjutan dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Ketua Komunitas Peduli Sungai Bendung Surokarsan, Sodik Ridwanto, menyampaikan bahwa fokus utama komunitas tetap menjaga kebersihan sungai. Namun pihaknya juga siap mengembangkan potensi ekonomi, seni, dan budaya di kawasan Bendung Surokarsan sesuai arahan Wali Kota.

Sodik menjelaskan, komunitas ini merupakan gabungan warga dari Kelurahan Prawirodirjan dan Kelurahan Wirogunan dengan jumlah anggota 30 orang, dengan Jembatan Surokarsan sebagai ikon pemersatu kedua wilayah. Ke depan, komunitas juga akan berkolaborasi dengan Kampung Wisata Suro Amarto untuk mendorong pengembangan kawasan secara seimbang.(prg,wur)