Mantrijeron, suarapasar.com – Permasalahan sampah dinilai tidak bisa hanya ditangani pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat serta berbagai pemangku kepentingan. Hal ini disampaikan Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, saat membuka pameran ‘Uwuhmu Tekan Ndi’ di Kedai Kebun Forum, Senin (25/8).
Menurut Wawan, persoalan sampah semakin mendesak setelah penutupan TPA Piyungan yang selama ini menjadi lokasi pembuangan akhir Kota Yogyakarta dan sekitarnya.
“Ketika TPA ditutup, kita sempat menghadapi darurat sampah. Semua depo penuh dan kota dipenuhi timbunan. Alhamdulillah dalam dua bulan bisa kita atasi, tapi tantangannya belum selesai. Sampah yang masuk setiap hari meningkat dari 180 ton menjadi lebih dari 250 ton, sementara kapasitas pengolahan hanya sekitar 180 ton,” ungkapnya seperti dikutip dari laman Pemerintah Kota Yogyakarta.
Saat ini Pemkot mengandalkan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) seperti di Nitikan berkapasitas 65 ton per hari serta TPS Terminal Giwangan. Namun, keterbatasan lahan membuat solusi jangka panjang harus dicari. Program Masyarakat Jogja Olah Sampah (Mas Joss) pun digencarkan agar warga terbiasa memilah sampah dari rumah.
Wawan menambahkan, pengolahan kreatif oleh masyarakat mampu memberi nilai lebih.
“Kami butuh masyarakat ikut memilah, bahkan mengolah sampah organik sendiri. Kalau hanya mengandalkan incinerator atau alat besar, sulit karena karakter sampah kota kita 80 persen basah. Jadi partisipasi warga itu kunci,” jelasnya.
Ia juga mengapresiasi pameran ‘Uwuhmu Tekan Ndi’ sebagai gerakan nyata peduli lingkungan. “Ini bentuk keprihatinan sekaligus tanggung jawab pada limbah kita sendiri. Pemerintah tidak bisa jalan sendirian. Acara seperti ini menunjukkan bahwa masyarakat juga mampu menjadi bagian solusi,” ujarnya.
Direktur Kedai Kebun Forum, Yustina Neni, menjelaskan pameran ini menampilkan dokumentasi pengelolaan limbah serta menjadi ruang berbagi pengalaman warga dari berbagai daerah di DIY.
Ecobrick salah satu cara untuk mengurangi sampah plastik juga di pamerkan dalam kegiatan ini.
“Kesulitan mengelola limbah itu nyata. Tapi justru kesulitan itulah yang memotivasi kami untuk menghadirkan pameran ini. Supaya kita saling menguatkan, tidak cepat putus asa, dan terus mencari cara kreatif mengurangi sisa konsumsi,” jelas Neni.
Kegiatan ini menampilkan foto, video, karya olahan limbah, hingga pertunjukan teater bertema sampah. Mulai dari ecobrick, kerajinan plastik bekas, hingga kompos organik dipamerkan sebagai bukti bahwa sampah dapat bernilai.
Salah satu peserta dari Koperasi Makaryo Adi Katon, Wuri Rahmawati, membagikan pengalamannya mengelola sampah rumah tangga yang diangkut langsung dari warga. Meski demikian, ia mengaku masih ada kendala dalam mengatasi dominasi sampah organik dan residu yang belum sepenuhnya terserap.
Direktur Kedai Kebun Forum, Yustina Neni, saat memberikan sambutan.
“Setiap usaha pantas diapresiasi, sekecil apa pun. Karena dengan usaha bersama, kota ini bisa terhindar dari darurat sampah. Jika diperlukan untuk adanya kolaborasi kami siap bekerjasama dengan Pemerintah Kota Yogyakarta untuk menuntaskan permasalahan sampah di Kota Yogya,” katanya.(prg,wur)








