Kaget Masih Ada RTLH Di Wates, Bupati Agung Setyawan Targetkan Hak Dasar Perumahan Terpenuhi di Masa Kepemimpinannyaa

Kulon Progo, suarapasar.com : Bupati Kulon Progo, R Agung Setyawan menegaskan bahwa persoalan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di wilayah Kabupaten Kulon Progo harus selesai di era kepemimpinannya.

Hal itu ia tekankan saat penyerahan bantuan rumah layak huni dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kulon Progo di rumah Sumaryono warga Jogoyudan, Wates, Kulon Progo Senin (19/5/2025).

Agung trenyuh dan prihatin masih ada RTLH di wilayah Kelurahan Wates.

“Radiusnya ini kan enggak ada 1 kilo dari kantor Pemda mosok masih ada rumah yang seperti itu. Tapi kami targetkan adalah hak dasar tentang perumahan di kepemimpinan saya harus clear. Hak dasar tentang perumahan terpenuhi,” tandas Agung.

Agung juga mengapresiasi Baznas Kulon Progo yang cukup proaktif menyalurkan ZIS untuk membantu masyarakat memenuhi kebutuhan tempat tinggal yang layak.

 

Agung pun mengajak para pengusaha dan masyarakat secara umum lainnya untuk menyalurkan zakat infak dan sodaqohnya melalui Baznas.

 

“Maka tolong pengusaha-pengusaha, orang yang mempunyai kemampuan berlebih untuk membantu orang yang belum beruntung, silakan percayakan kepada Baznas dan akan mendapatkan pelaporan komplit dari Baznas,” tuturnya.

 

Sementara itu, Wakil Ketua II Baznas Kulon Progo Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan, Sugiyanta menjelaskan Baznas Kulon Progo menyalurkan bantuan stimulan Rumah Layak Huni Baznas masing-masing senilai Rp 20 juta rupiah untuk 6 KK penerima, terdiri dari 3 KK penerima dari Kelurahan Wates dan 3 lainnya dari Kalurahan Sendangsari, Pengasih, Kulon Progo. Selain itu, disalurkan pula bantuan stimulan senilai Rp 7,5 juta untuk perbaikan Atap, Lantai, Dinding (Aladin) untuk 1 KK penerima.

 

“Biaya stimulan yang kami berikan untuk Rumah Layak Huni Baznas atau kalau disini disebut RTLH dan bantuan Aladin itu juga termasuk untuk perbaikan jamban yang layak,” jelasnya.

 

Salah satu penerima bantuan, Sumaryono dari Jogoyudan Wates mengaku bantuan stimulus untuk memperbaiki rumahnya yang hingga saat ini masih berdinding bambu dan merupakan bangunan lama peninggalan simbah buyutnya. Rumahnya acap kali bocor ketika hujan tiba.

 

“Alhamdulillah terima kasih sekali, dengan bantuan ini nanti bisa memperbaiki rumah terutama untuk atap ya ini ya. Kalau saya sendiri hanya kerja buruh serabutan, kalau pas ada kerjaan bangunan ikut kalau gak ada kerjaan saya ngojek, istri saya kerja di warung, anak saya 3 satu kerjadi bakso, satu SMK, satu masih SD. Terima kasih sekali,” katanya.

 

Lurah Wates, Bambang Sunartito mengatakan meski berada dekat dengan pusat pemerintahan saat ini masih ada 17 RTLH di Kelurahan Wates yang belum mendapat intervensi untuk rehab atau pun peningkatan kualitas.

 

Ia berharap ada dukungan lebih dari berbagai pihak agar persoalan rumah tidak layak huni di Kelurahan Wates segera terselesaikan.

“Kita justru berharap untuk Kelurahan Wates ada skala prioritas ya, skala prioritas terutama dari Provinsi, dari aspirasi dewan itu yang kita harapkan. Karena kalau ditopang dengan anggaran yang di tingkat kelurahan tidak ada anggaran di sana,” harap Tito. (Wds/drw)