Manggis, salah satu komoditas ekspor unggulan Indonesia, masih menghadapi kendala dalam pemilahan karena minimnya teknologi otomatisasi. Kondisi ini sering menurunkan kualitas ekspor akibat ketidakteraturan dalam proses penyortiran.
Menjawab persoalan tersebut, tim dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) berhasil mengembangkan alat pemilah buah otomatis berbasis lengan pneumatik. Inovasi ini diklaim bekerja cepat, akurat, dan sepenuhnya terkomputerisasi.
“Di pasar internasional, buah manggis harus memenuhi kriteria ketat, baik ukuran maupun tingkat kematangan. Hal itu mendorong kami menghadirkan solusi berbasis teknologi agar proses pemilahan lebih efisien dan akurat,” jelas Ir. Slamet Riyadi saat diwawancarai, Senin (25/8) seperti dikutip dari laman Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Alat ini menggunakan conveyor belt yang mengantarkan manggis ke chamber dengan dua kamera untuk memotret dari sisi atas dan samping. Kamera tersebut mengukur diameter dan mendeteksi tingkat kematangan buah dengan bantuan kecerdasan buatan (AI).
“Setelah proses pengukuran di chamber, buah akan otomatis disortir menggunakan lengan pneumatik yang kami patenkan. Lengan ini mendorong buah sesuai kategorinya, besar, sedang, atau kecil,” tambah Slamet.
Uji coba skala laboratorium menunjukkan hasil menjanjikan dengan akurasi lebih dari 90 persen, terutama pada pengukuran diameter buah. Teknologi ini memanfaatkan metode Support Vector Machine (SVM) untuk deteksi kematangan serta pengolahan citra digital untuk mengukur ukuran buah.
Tim berharap alat ini dapat segera diuji di lapangan agar performanya terukur secara lebih komprehensif, sekaligus membuka peluang produksi massal untuk mendukung industri buah dan sektor ekspor.(prg,wur)