Babad Siti Kemantren 2025 Angkat Penanda Keistimewaan Yogya Lewat Pameran dan Tour Budaya

Umbulharjo, suarapasar.com– Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Kebudayaan menyelenggarakan peringatan 13 tahun Keistimewaan Yogyakarta bertajuk Babad Siti Kemantren pada 31 Agustus–1 September 2025 di Taman Budaya Embung Giwangan. Tahun ini, kegiatan tersebut mengusung tema Sayuk Rukun Gregah Gumregah yang menekankan semangat kerukunan sosial.

Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Yetti Martanti, menjelaskan Babad Siti Kemantren menghadirkan pameran etalase penanda keistimewaan di tiap wilayah. “Kegiatan ini menunjukan bagaimana keistimewaan di wilayah-wilayah. Keistimewaan itu bagaimana Kraton sebagai pusat kebudayaan ditunjukan, tapi juga diperkuat oleh wilayah-wilayah. Bagaimana penanda keistimewaan berkembang melalui sejarah dan budaya di wilayah,” ujarnya saat pembukaan, Minggu (31/8/2025).

Acara dibuka secara resmi dengan pembunyian lonceng oleh Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan. Pameran menampilkan berbagai tema, di antaranya Kemantren Gondokusuman dengan Memorabilia Petronella yang mengangkat Rumah Sakit Bethesda sebagai rumah sakit pertama di Yogyakarta, Kemantren Umbulharjo dengan Jejak Luhur Ki Hajar Dewantara, serta Kemantren Kotagede yang memamerkan kerajinan perak.

Menurut Yetti, format pameran ini memberi pemahaman kepada masyarakat tentang apa yang membuat Yogyakarta istimewa. Selain pameran, tersedia tur penanda keistimewaan di kemantren yang difasilitasi dengan pemandu. “Kami berharap ini berkelanjutan tidak hanya di peringatan keistimewaan. Tapi bagaimana sejarah dan budaya itu bisa dimaknai lebih dalam oleh masyarakat dengan cara melestarikan dan mengembangkan menjadi daya tarik yang bisa dikunjungi,” jelasnya.

Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan memberikan apresiasi atas konsistensi penyelenggaraan kegiatan ini. Ia menekankan pentingnya sinergi masyarakat dengan Kraton Yogyakarta untuk merawat nilai sejarah dan budaya. “Satu wajib sejarah, komunikasi harus intens dan nguri-nguri kebudayaan. Hal yang perlu kita tindak lanjuti bagaimana masyarakat memahami kenapa Yogya Istimewa. Kita coba sosialisasikan tidak hanya di acara dan formalitas. Tapi sikap dan perilaku masyarakat Kota Yogyakarta dengan adanya keistimewaan,” pesannya.(prg,wur)